Pemimpin Futuristik: Pemimpin Pas Menuju Indonesia Emas 2045

Avatar photo
Reporter : Kondradus Yohanes Klau Editor: Kaka
Pemimpin Futuristik: Pemimpin Pas Menuju Indonesia Emas 2045. Photo: Kondradus Yohanes Klau, S.Pd., M.Sc.
Pemimpin Futuristik: Pemimpin Pas Menuju Indonesia Emas 2045. Photo: Kondradus Yohanes Klau, S.Pd., M.Sc.

Kefamenanu, gardamalaka.com – Pemimpin Futuristik: Pemimpin Pas Menuju Indonesia Emas 2045.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dewasa ini telah membawa banyak perubahan di level global. Hal ini lantas membuat bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia mulai waspada dan saling mewaspadai.

Maraknya inovasi tekhnologi, pesatnya penemuan-penemuan baru telah membawa dampak signifikan bagi perubahan berkehidupan.

Persaingan-persaingan di berbagai sektor kehidupan pun terjadi, bak air yang mengalir tak terbendung.

Perhatikan saja persaingan antar pribadi/golongan/kelompok/negara/bangsa yang terjadi di dunia saat ini, entah itu di bidang politik, pertahanan dan keamanan, ekonomi, industri, pariwisata, keagamaan ataupun di bidang kehidupan lainnya.

Persaingan yang ditunjukkan secara tidak sehat lantas mengakibatkan banyak kelompok/masyarakat dunia/negara terjebak dalam krisis multidimensi, yang kemudian menggerogoti norma-norma kehidupan berbangsa di dunia.

Baca Juga :  Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia dan Upaya untuk Mengatasinya

Meski demikian sesungguhnya ada banyak hal positif dari pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Mayoritas negara mulai merancang bangun kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa depan.

Peradaban baru telah mulai disiapkan dan diimpikan oleh para penyadar dan penikmat kemajuan global.

Sebut saja negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, Jerman, Italy, Israel, dan masih banyak negara lainnya.

Kesemuanya itu telah mengetahui dan menyadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi adalah keniscayaan yang harus dihadapi, dialami, dan disikapi.

Indonesia pun tak kalah. Para pemimpinnya mulai merancang bangun mimpi untuk berjaya pada masa datang.

Indonesia ingin mencapai masa keemasannya pada tahun 2045.

Baca Juga :  Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari Resmi Diberhentikan DKPP, Buntut Kasus Asusila

Menghadapi kondisi dunia yang semakin mengglobal, dengan segala bentuk kamajuan dan inovasinya, dibutuhkanlah pemimpin yang berjiwa futuristik.

Indonesia membutuhkan kehadiran pemimpin yang mampu melihat potensi negara untuk membangun masa depan.

Indonesia butuh pemimpin yang tahan terhadap tekanan global yang mampu mengkolaborasi segala potensi menjadi harapan sehingga mimpi untuk mencapai Indonesia emas pada 2045 dapat terwujudkan.

Kepemimpinan Futuristik dan Indonesia Emas 2045

Pada era revolusi digital dewasa ini setiap individu dituntut untuk melek terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK).

Manusia diharapkan mampu menguasai IPTEK guna bersaing di era yang kian mengglobal ini. Seorang individu akan dikata “buta huruf” jika tidak melek tekhnologi.

Baca Juga :  Matematika dan Musik saling Punya Hubungan: Emang Iya? Cek Faktanya!

Futurolog dan Penulis terkenal, Alvin Eugene Toffler pernah mengatakan bahwa “kondisi buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca atau menulis, melainkan mereka yang tidak belajar (learn) hal-hal baru yang penting untuk dikuasai, mereka yang membuang apa-apa yang sudah tidak relevan dengan perubahan zaman (unlearn), dan belajar kembali hal-hal yang pernah dikuasai sebelumnya, namun sekarang telah berubah (relearn).”

Sejak tahun 1960-an, masyarakat telah mencoba memahami dampak tekhnologi baru dan perubahan sosial.

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama GardaMalaka.Com Dengan Kaka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Kaka.

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.