Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia dan Upaya untuk Mengatasinya

Avatar photo
Reporter : Kondradus Yohanes Klau Editor: Kaka
Kondradus Yohanes Klau tentang Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia dan Upaya untuk Mengatasinya. Photo: Istimewa.
Kondradus Yohanes Klau tentang Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia dan Upaya untuk Mengatasinya. Photo: Istimewa.

Kefamenanu, gardamalaka.comPendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM). Melalui pendidikan, seseorang mampu berpikir kritis, logis, analitis, sistematis dan kreatif, yang mana dengan itu, seseorang dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan dalam hidupnya.

Sejalan dengan cita-cita Negara yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memerintahkan agar pelaksanaan pendidikan harus mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Apabila kita cermati, betapa mulia cita-cita bangsa Indonesia dan sungguh bernas tujuan pendidikan nasional kita. Namun, apakah upaya-upaya pemerintah, swasta dan stakeholder lain telah membuat wajah pendidikan di Indonesia jauh lebih bermutu?

Mutu Pendidikan di Indonesia

Mutu (kualitas) pendidikan di Indonesia masih menjadi topik perbincangan hangat saat ini. Secara umum, kualitas pendidikan di Indonesia dianggap masih level rendah.

Data pemeringkatan kualitas pendidikan menurut Worldtop20.org menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat 67 dari 203 negara di dunia.

Baca Juga :  Aliansi Masyarakat NTT Menggugat, Fritz Tuntut Copot Kapolda NTT Buntut Seleksi Catar Akpol 2024

Sedangkan hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diumumkan pada 5 Desember 2023, menempatkan Indonesia pada peringkat 68 dunia dengan skor: Matematika (379), Sains (398), dan Membaca (371).

Fakta tersebut menunjukkan kepada kita sebuah ironi yang menggerus pikiran kita. Bagaimana tidak? Kita telah tahu bersama bahwa dana APBN/APBD yang telah dialokasikan Pemerintah berdasarkan regulasi di sektor pendidikan cukup besar, yaitu di angka 20%.

Lantas kita bertanya, Mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong rendah? Apa saja faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?

Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan

Menurut Elvira (2021), dalam jurnal ilmiahnya berjudul “Faktor Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan dan Cara Mengatasinya” bahwa pendidikan bermutu lahir dari sistem perencanaan yang baik (good planning system) dengan materi dan sistem tata kelola yang baik (good governance system) dan disampaikan oleh guru yang baik (good teachers) dengan komponen yang bermutu.

Menurutnya, pendidikan bermutu lahir dari guru yang bermutu. Guru yang bermutu paling tidak harus menguasai materi ajar, metodologi, sistem evaluasi, dan psikologi belajar. Guru yang baik bukan sekedar pintar, tetapi guru yang mampu memintarkan peserta didik.

Baca Juga :  Pemimpin Futuristik: Pemimpin Pas Menuju Indonesia Emas 2045

Guru yang baik bukan sekedar guru yang berkarakter, tetapi guru yang mampu membentuk karakter yang baik bagi peserta didiknya. Bukan sekedar guru yang mempunyai teladan dan integritas, tetapi guru yang mampu menjadikan peserta didik memiliki teladan dan patut diteladani oleh siswa.

Dari pemikiran Elvira ini dapat dipahami bahwa kualitas guru menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Hal itu lantas dibenarkan Sanjaya (2023). Ia mengemukakan bahwa rendahnya kualitas guru dapat menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Selain itu, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan juga oleh beberapa faktor, yaitu:

Pertama, Kesejahteraan Guru. Sanjaya (2023) menulis bahwa kesejahteraan guru yang masih jauh di bawah standar telah menyebabkan motivasi guru menjadi menurun. Hal itu mengakibatkan performa mengajar guru menjadi rendah dan hal itu berdampak pada proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang tidak maksimal mengakibatkan kualitas pendidikan menjadi ikut rendah.

Kedua, ketimpangan sarana pendidikan. Menurut Sanjaya, fasilitas pendidikan menjadi salah satu faktor penentu kualitas pendidikan. Namun saat ini masih sering ditemukan banyak ketimpangan antara sekolah di perkotaan dan pedesaan. Apalagi di daerah-daerah terluar atau pelosok Indonesia. Contoh ketimpangan sarana tersebut, seperti ketersediaan laboratorium, perpustakaan, ruang kelas, komputer, dan sebagainya.

Baca Juga :  Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Shin Tae-yong Butuh Tambahan Pemain, Timnas Indonesia Target Masuk Playoff

Ketiga, keseringan perubahan kurikulum. Sanjaya menegaskan, perubahan kurikulum yang sering terjadi di Indonesia dapat menyebabkan rendahnya mutu pendidikan. Perubahan yang amat sering mengakibatkan guru dan siswa sulit menerapkan model atau pendekatan pembelajaran yang mampu mendongkrak mutu pendidikan.

Keempat, mahalnya biaya pendidikan. Menurut Kurniawati (2022), mahalnya biaya pendidikan sangat membebani masyarakat Indonesia yang umumnya didominasi masyarakat lapisan menengah ke bawah. Banyak orang lebih memilih tidak bersekolah dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang besar. Di lain pihak, ada anak yang ingin bersekolah namun terkendala biaya sehingga terpaksa putus di tengah jalan. Biaya pendidikan yang mahal telah membuat ketidakmerataan pendidikan di Indonesia, dan tentu berdampak pada mutu pendidikan kita.

Selain faktor-faktor penyebab yang sudah diutarakan tersebut, terdapat juga faktor lain, yaitu rendahnya prestasi siswa.

Kurniawati (2022) menjelaskan, rendahnya prestasi siswa disebabkan oleh faktor eksternal sebagaimana sudah dikemukakan, seperti rendahnya kualitas guru, sarana-prasarana yang kurang memamadai, faktor keluarga (konflik dan kondisi ekonomi), dan faktor lingkungan (situasi pergaulan yang buruk). Selain itu, ada faktor internal, seperti faktor jasmani (kelelahan, kurang asupan gizi, sakit dan penyakit) dan faktor psikologis (motivasi dan disiplin).

Disclaimer:
Artikel Ini Merupakan Kerja Sama GardaMalaka.Com Dengan Kaka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Kaka.

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.