Gardamalaka.com- Pidato Bung Karno di sidang persiapan kemerdekaan 1 Juni 1945 bahwa Negara Indonesia akan didirikan tidak hanya untuk elite tertentu, golongan tertentu, melainkan untuk semua golongan merupakan pidato yang sejuk bagi semua orang.

Pidato Bung Karno di hari lahir Pancasila itu merupakan suatu ihktiar untuk mempersatukan bangsa Indonesia dari berbagai suku, agama, golongan, dari berbagai status sosial-ekonomi-politik-budaya.

Bagaimanapun, itu merupakan pidato bersejarah yang mau merangkul bangsa Indonesia yang begitu majemuk dari Sabang sampai Merauke, dari masyarakat kota sampai masyarakat pinggiran di pelosok-pelosok negeri.

Dari pidato Bung Karno itu, terasa jelas bahwa Indonesia tidak hanya dibangun untuk masyarakat kota yang serba mewah seperti Jakarta saja yang hari ini jadi pusat negara memikirkan apa yang berguna bagi semua orang.

Betapapun pentingnya negara Jakarta, seperti juga pidato Bung Karno, apa yang mereka lakukan barulah berguna sejauh ilmu mereka amaliah, dan amal ilmiah.

Artinya bahwa ilmu yang mereka amalkan bagi seluruh bangsa dan tanah air ini barulah berguna sejauh untuk mencapai kesejahteraan bersama, tidak hanya untuk kesejahteraan orang tertentu saja, atau kelompok orang tertentu saja yang sesuku, seagama, atau segolongan saja.

Lebih dari itu, Indonesia memang dulu didirikan di atas fakta saling menerima oleh semua masyarakat yang majemuk itu dengan semua mau meninggalkan egonya untuk suatu bangsa yang Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

Jauh sebelum Indonesia merdekapun para pemuda sudah berihktiar bersama untuk tetap bersatu dengan bersumpah bahwa bersatu bangsa dan tanah air sekaligus menandai kesiapan untuk saling menerima.

Siap menerima jika berbeda pandangan, berbeda warna kulit, berbeda agama atau golongan, namun tidak untuk menerima ketimpangan status sosial-ekonomi, apalagi diperlakuan secara tidak adil di depan hukum.

Ketimpangan status sosial-ekonomi bagi sebagian orang tidak hanya merupakan fakta begitu buruknya penghayatan negara terhadap ilmu amaliah dan amal ilmiah, melainkan bentuk ketidakadilan yang hari ini terus diwariskan oleh negara.

Ketimpangan antara kaya dan miskin, kota dan desa, Jakarta dan daerah-daerah pinggiran jelas merupakan pekerjaan rumah bagi negara.

Semua ketimpangan ini bersumber dari ketidakadilan pembangunan, dan ini sering membuat orang meninggalkan daerahnya ke daerah lain yang lebih maju.

Distribusi keadilan sosial-ekonomi yang tidak merata di daerah-daerah ini pada akhirnya menyisahkan pekerjaan rumah bagi upaya perbaikan kesejahteraan bersama.

Bung Karno juga berpidato, bahwa Indonesia akan lebih terang bukan hanya obor yang dinyalakan di Jakarta, tetapi lilin-lilin kecil yang dinyalakan di pelosok-pelosok negeri.

Artinya bahwa agar Indonesia terlihat terang, daerah yang dibangun tidak hanya Jakarta, tetapi juga pelosok negeri seperti di Kakaniuk.

Tentu ini metafor, tetapi jangankan lilin-lilin kecil, bicara listrik saja sampai hari ini sebagian pelosok seperti di Kakaniuk belum merasakan nyala listrik.

Di hari Sumpah Pemuda tahun 2021 ini, orang tidak lagi cukup diajak bersumpah untuk bersatu sebagai satu bangsa dan tanah air, tetapi lebih dari itu diajak mempersoalkan mengapa lilin-lilin kecil di pelosok-pelosok negeri belum kunjung bernyala.

Mereka yang terpinggirkan di daerah pelosok tentu bagian dari bangsa Indonesia yang harus diperlakukan secara adil, tidak hanya soal pembangunan, tetapi juga soal bagaimana mencapai kesejahteraan bersama.

Tiada listrik, tiada distribusi pendidikan bermutu, pembangunan infrastruktur, distribusi air bersih merupakan sederet bukti lain ketidakhadiran negara di sana.

Tentu, ini baru beberapa fakta yang diangkat untuk menunjukan ketidakadilan dan ketidakhadiran negara saja.

Di belahan lain negeri ini, masih banyak fakta tentang ketidakadilan yang tidak hanya mendesak untuk negara hadir, tetapi juga mendesak untuk menyalakan lilin-lilin kecil di sana.

Penulis;

Efrem Ery Gius, S.IP., M.IP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here