Pesta Rakyat telah Usai, tapi Rapat Rakyat Belum Dimulai, GARDAMALAKA.COM – Rembulan malam semakin terang, dinginnya malam menggetarkan tubuh ini. Di tengah sepinya malam ini, bunyian ketikan tools di laptopku mengiringi pikiran yang selama ini sempat mengguras energi.

Di saat yang sama cerahnya malam ini, turut menginspirasiku untuk menulis tentang gejolak yang dialami kaum proletar di saat-saat ini. Rakyat sedang dibayangi oleh harapan-harapan yang tak pasti.

Awalnya agak ragu-ragu sembari menimbang-nimbang para “Serigala Berbulul Domba” yang siap sedia memangsaku, namun aku dikuatkan dengan kata-kata pnyemangat jiwa sang proklamator, Soekarno:

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961).

Maka, sungguh murni hatiku menorehkan ketikkkan ini yakni demi kebaikan bersama, para rakyat Malaka tercinta.

7 Bulan lalu tepatnya tanggal 9 Desember 2020 adalah puncak dari penentuan pilihan Rakyat terhadap pemimpin baru Kabupaten seumur jagung ini.

Bisa dikatakan bahwa proses sampai ke 9 Desember itu adalah suatu “Pesta Rakyat”. Pesta dimana dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itu terealisasikan.

Masih sangat terngiang ditelinga bahwa semangat reformasi di Kabupaten ini sungguh kental. Barisan Rakyat dari berbagai elemen bersatu menentukan pilihannya demi perubahan di tanah tercinta Malaka.

Ya, Bersatunya Rakyat, menjatuhkan Rezim, Bersatunya Rakyat melawan System, Bersatunya masyarakat melawan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), Bersatunya Masyarakat melawan Dinasti Politik, singkatnya, masyarakat marah dan memberontak terhadap sesuatu yang “buruk” yang terjadi selama ini.

Apakah figur-figur tertentu yang dilawan waktu itu? Tentu ya dan tidak karena dibalik system yang berjalan itu ada figur-figur tertentu yang “bermain” di situ.

Nah, demi tujuan yang mulia waktu itu, berbagai elemen masyarakat di bentuk. Istilah yang “viral” waktu itu adalah “Tim-tim” dibentuk. Tidak perlu disebutkan tim apa, namun, mereka sangat solid waktu itu.

Berbagai janji dan strategi dibuat. Akhirnya semua itu “berhasil” memenangkan rakyat. Itulah PESTA RAKYAT, kini telah usai.

Rapat Rakyat Belum Dimulai

Setelah kemenangan itu, tentu bukan politik balas dendam yang dibangun tetapi, politik Persatuan yang dibangun. Itulah idealnya saat ini.

Namun, 7 bulan telah berlalu, pada Bulan Ke-7 tahun ini, suatu angka yang sempurna untuk kita refleksikan. Kembali pada prinsip PERSATUAN tadi, apakah dari segi internal TIM-TIM PEMENANG sudah sedang disatukan saat ini? Ataukah sedang diadudombakan?

SEKALI LAGI, APAKAH KITA SEDANG DI-ADUDOMBAKAN? Ataukah ada duri dalam daging?

APAKAH ADA GRAND DESIGN atau Aktor intelektual yang sedang menyetir pemerintahan yang ada demi kepentingannya? hmmm ini kalau tidak disadari sangatlah berbahaya.

Ataukah kepentingan rakyat sedang dikesampingkan, sedangkan kepentingan pribadi atau golongan tertentu sedang didahulukan?

Lebih lagi, apakah juga “TIM SEBELAH” diajak untuk diskusi bersama membangun Malaka? Jika Politik BALAS DENDAM mau dihapus, maka kini saatnya MENDENGARKAN.

Jika mau disatukan, maka “RAPAT RAKYAT”, perlu atau wajib dilakukan. Walau situasi pandemi sedang menggila, namun, ada prokes yang bisa ditaati.

Tim-tim, entah tim keluarga, tim media, tim IT, fukun, Akademisi, SIS dan Bro, dipanggil dalam suatu momen tertentu, diskusi dan dengarkan mereka. Kalau tidak, bagaimana bisa menyatukan juga Tim Sebelah?

Ataukah sudah melangkah lebih jauh, baru mendengarkan TIM RAKYAT JELATA INI?

Sampai saat ini, RAPAT RAKYAT BELUM DIMULAI. Ingat angka 7, angka yang sempurna. Jika RAPAT RAKYAT TIDAK DILAKSANAKAN, INI AKAN MENJADI BOOM WAKTU yang setiap saat bisa meledak.

by Adrian B, SS, STB, Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Loyola School of Theology, Ateneo de Manila University.

Artikel ini pertama dimuat di www.tempustimur.com

1 COMMENT

  1. Mohon tata bahasanya diperbaiki kk!
    Ada beberapa kata yg cara penuliasannya tidak tepat. Saya tidak ingin memvonis, tetapi Saya merasa bahwa penulis punya impian untuk membesarkan media ini. Kika memang benar demikian harusnya hal-hal kecil ini lebih diperhatikan mengingat media ini menggunakan nama Malaka, dan tentunya konsumen bukan saja orang lokal.

    Salam literasi, Salam sehat kk Adrian B🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here