Ilustrasi
Ilustrasi

Betun, Gardamalaka.com – Kepala Desa (Kades) Rabasa Biris (Rabis), Salomon Leki Tae diduga memanipulasi tandatangan pada sejumlah dokumen untuk pencairan dana desa (DD). Hal ini diketahui oleh Sekretaris Desa ketika diminta bubuhkan tandatangan, saat Bendahara Desa mengantarkan hak-nya sebagai Pengelola Keuangan.

Diduga kuat Kepala Desa (Kades) Rabis memanipulasi tandatangan pada tahap III 2017, 2018, APBdes 2018; kemudian dokumen SPJ tahap III tahun 2019, SPJ tahap I 2020, dan RPD pencairan 2020, termasuk surat perintah membayar (SPM).

Sekretaris Desa (Sekdes) Rabis, Vincensia Luruk ketika ditemui media gardamalaka.com di kediamannya, Kamis (24/6/2021) mejelaskan, setelah diundang ke Keuangan Daerah, baru ia mengetahui bahwa APBdes 2018 itu sudah dijilid dan sudah ditandatangani semua.

“Baru saya tahu, APBdes sudah dimanipulasi tandatangan, karena saya tidak pernah tandatangan APBdes,” jelas Sekdes Vincensia.

Menurutnya, persoalan manipulasi tantadatangan bermula sejak tahun 2017, yang pada akhirnya diklarifikasi.

“Itu sudah diklarifikasi kembali bersama Camat Wewiku dan Kadis PMD Malaka, dan diselesaikan di Keuangan Daerah,” paparnya.

Sekdes Rabis menggambarkan, pada tahun 2020 Kades mengulang lagi hal serupa (manipulasi tandatangan) seperti pada tahun 2017.

“Karena beliau (Kades) sudah tahu, seperti hasil klarifikasi cara mengganti, makanya ia lakukan penggantian atasan langsung, tidak dari orang luar, akan tetapi angkat kembali Staf Desa,” papar Vincensia.

Berjalannya waktu, lanjut Sekdes Rabis, pada tahun 2020 terjadi pencairan tahap I. Selanjutnya ada pembagian honor Staf Desa.

“Dari situlah kita tahu, sudah ada lagi penggantian atasan langsung oleh kades Rabasa Biris,” kata Vincensia.

Menyinggung Bendahara yang mengantarkan sejumlah uang (honor), Vincensia menjelaskan Bendahara Desa mengantarkan haknya sebagai Pengelola Keuangan Desa, sebanyak satu juta rupiah untuk 5 (lima) bulan.

“Antar langsung dengan daftar pembayaran dan SPJ; tapi hanya tandatangan data penerima saja, sedangkan setuju dibayar itu tidak tandatangan,” ujarnya.

Vincensia menguraikan, di situlah ketahuan Kades Rabasa Biris memanipulasi tandatangan karena masih ada hak itu yang dibayar oleh Kades. “Dan itu belum diganti atasan lansung,” katanya.

Karena nama Sekdes masih ada pada dokumen untuk ditandatangani maka ada dugaan manipulasi tandatangan untuk pencairan DD.

“Bendahara juga membenarkan kalau (atasan langsung) belum diganti. Jadi siapa yang tandatangan SPM di Keuangan Daerah?,” tohok Sekdes Vincensia.

Ia memaparkan, jika salah satu pengelola keuangan desa belum membubuhi tandatangan SPM maka DD tidak akan dicairkan.

“Setahu saya, SPM, kalau di antara salah satu tidak tandatangan, tidak bisa cairkan uang; dan tidak (boleh) ada orang yang manipulasi (tandatangan),” tegas Vincensia.

Jadi, Sekdes menilai, rencana penarikan dana (RPD) pencairan ini sudah dimanipulasi datanya.

“Karena pencairan tahap I saya yang (harus) tandatangan SPJ karena belum diganti; kecuali masuk pada pencairan tahap II,” urai Vincensia.

Dirinya mengungkapkan, SPJ tahun 2020 tidak ia tandatangani karena Kades Rabis sudah mengganti atasan langsung untuk pencairan tahap II sampai sekarang.

“Sedangkan untuk pencairan SPJ tahap I tahun 2020 masih ada hak saya; tapi saya tidak tandatangan. Jadi itu sudah manipulasi,” ketusnya.

Vincensia membeberkan bahwa dokumen yang dimanipulasi adalah SPJ tahap III 2017, 2018, APBdes 2018, kemudian dokumen SPJ tahap III 2019, dan SPJ tahap I tahun 2020.

Selain itu, ada dokumen APBdes 2018, RPD pencairan 2020 dan SPM yang juga dimanipulasi.

“Yang saya tahu, kalau SPM, salah satu orang tidak tandatangan, tidak bisa pencairan,” ungkapnya.

Sekdes Vincensia mengatakan, semua dokumen yang dipalsukan sudah dipegangnya.

“Untuk dokumen yang dimanipulasi, semua saya pegang. Lebih fatal lagi, RPJMdes 5 tahunan ini dimanipulasi semua tandatangan; asli ada di saya,” ungkap Vincensia.

Dikonfirmasi Media, HP Kades Nonaktif

Waktu berbeda, media berhasil mengonfirmasi Kepala Desa Rabasa Biris Salomon Leki Tae, Jumat (25/6) melalui sambungan telepon genggam.

Kades Salomon menjelaskan secara singkat bahwa pihaknya tidak pernah melakukan manipulasi tandatangan. Justeru semua tandatangan itu milik Sekdes Vincensia.

“Kami tidak bisa manipulasi orang punya tandatangan. Jadi bukan kami yang manipulasi. Itu, dia (Sekdes) punya tandatangan,” ujar Kades Salomon dengan suara kurang jelas, sambil mematikan sambungan telepon.

Wartawan media berusaha untuk mengonfirmasi lanjut untuk meminta penjelasan lengkap, akan tetapi nomor telepon milik Kades Salomon tidak bisa lagi dihubungi (nonaktif).

Coba dihubungi berulang-ulang tetap tidak tersambung hingga berita ini diturunkan. (GM/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here