Danau Mantasik di Siang Hari (Foto: Istimewa)
Danau Mantasik di Siang Hari (Foto: Istimewa)

BETUN, GARDAMALAKA.COM – Destinasi wisata di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur ternyata banyak yang belum terekspos. Akibatnya, tak banyak yang tahu, berimbas pada minimnya pengunjung.

Tepatnya di Dusun Tambana, Desa Babotin, Kecamatan Botin Leobele, ada sebuah danau yang potensial menjadi destinasi wisata baru, yaitu Danau Mantasik (Manutasik), yang banyak belum diketahui masyarakat pecinta wisata alam.

Informasi adanya danau yang terletak antara dua kecamatan, yakni Botin Leobele dan Sasitamean itu diperoleh belum lama ini ketika awak media gardamalaka.com sedang menelusuri daerah perbukitan di wilayah Kecamatan Sasitamean.

Kala itu, awak media bertemu salah seorang Ibu (mama), Elisabeth Bete namanya, yang mengaku sebagai turunan suku Uim Men (Uma Meni) yang konon ceritanya yang dahulu mendiami daerah itu sebelum menjadi danau.

Setelah melewati pembicaraan panjang, ibu Elisabeth bersama suaminya, Eduardus Nana pun mengisahkan secara singkat asal-usul danau Mantasik.

Elisabeth Bete, salah satu turunan Suku Uma Meni bersama suaminya, Eduardus Nana (Foto: Red)
Elisabeth Bete, salah satu turunan Suku Uma Meni bersama suaminya, Eduardus Nana (Foto: Red)

Konon, di zaman nenek moyang, area seputar danau itu adalah sebuah perkampungan (Manutasik) yang ditinggali nenek moyang masyarakat suku Uma Meni.

Suatu hari, para nenek moyang Suku Uma Meni sedang menumbuk padi (versi lain mengatakan jewawut) hasil panenannya. Cuaca sangat panas. Peluh membasahi sekujur tubuh mereka.

Karena itu, para nenek moyang Uma Meni berceloteh: “Alangkah bagusnya jika ada air di sini. Kita bisa mandi sepuas-puasnya menyegarkan tubuh.”

Tak berapa lama, tiba-tiba terdengar bunyi letupan keras. Duaarrr! Air mencuat deras dari dalam tanah. Begitu cepat.

Seketika, air mulai menggenangi perkampungan itu. Semakin meninggi. Para nenek moyang yang sedang menumbuk padi tersontak kaget, tercerai berai berlari mencari tempat demi menyelamatkan diri.

Beberapa tak mampu selamatkan diri, akhirnya tenggelam bersama alu dan lesung penumbuk padi di tengah perkampungan yang sudah digenangi air. Beberapa lainnya berhasil mencapai tempat ketinggian dan selamatlah mereka.

Air terus bertambah banyak, dan terbentuklah sebuah danau, Mantasik (sesuai nama daerah itu).

Singkat cerita, para nenek moyang yang berhasil selamatkan diri akhirnya harus membangun perkampungan baru di sekitar danau yang terbentuk itu.

Mereka terus berkembang biak dan bertambah banyak. Hingga akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan daerah berdanau itu. Wilayah tujuan mereka adalah Numponi. Di sana suku Uma Meni tinggal dan hidup hingga saat ini.

Elisabeth Bete yang adalah salah satu turunan suku Uma Meni menceritakan, pemandangan di Mantasik sangat indah. Selain danau yang menawarkan kesegaran, ada juga hutan yang rimbun yang menyejukkan.

Setiap orang yang ke sana, baik saat pagi, siang ataupun sore hari, pasti merasa tenteram.

Namun sayangnya, dituturkan ibu Elisabeth, akses jalan menuju ke sana masih belum terurus baik. Masih minim sentuhan.

“Banyak pihak yang sudah janji akan urus Mantasik menjadi lebih baik, tapi belum saja sampai saat ini,” tambah Eduardus suaminya.

“Berharap, pemerintah Malaka memperbaikinya agar Mantasik mudah untuk dijangkau dan menjadi destinasi wisata unggulan,” kata Eduardus menutupi pembicaraan. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here