KEFAMENANU, GARDAMALAKA.COM – Menanggapi aksi menculik, menyekap, menganiaya serta memperkosa yang dilakukan Le Ray, warga Kelurahan Benpasi, Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU terhadap seorang wanita berinisial BWA (32) warga Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil Nusa Tenggara Timur (Lakmas NTT), Viktor Manbait, S.H angkat bicara.

Aksi tidak terpuji Le Ray yang sudah ditangani pihak Kepolisian Polres TTU tersebut sungguh mendapat perhatian serius Lakmas NTT.

Kepada media ini, Kamis (7/1/2021) pekan lalu, Viktor Manbait mengatakan bahwa terkait aksi itu, Kepala Rumah Tangga dan Kepala Keamanan Rumah Jabatan (Rujab) paling bertanggung jawab.

“Kepala Rumah Tangga dan Kepala Keamanan Rumah Jabatan paling bertanggung jawab atas penyalagunaan Rujab oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Apalagi untuk melakukan kejahatan atau maksiat di sana,” tegas Manbait.

Lebih lanjut dirinya mengutarakan 6 (enam) poin yang menjadi perhatian publik saat ini.

Pertama: Peristiwa yang terjadi adalah sebuah kejahatan kemanusiaan dan juga sebuah bentuk penyiksaan yang kejam.

Kedua: Peristiwa ini bukanlah sebuah kejadian yang serta merta terjadi tapi sudah direncanakan, dan tidak saja melibatkan pelaku tapi juga mereka yang telah mengundang korban datang ke kos-kosan itu tapi membiarkan korban disiksa di hadapan mereka tanpa ada upaya maksimal untuk menghentikan penyiksaan itu, bahkan membiarkan korban dibawa pergi oleh pelaku yang kemudian melakukan penyiksaan fisik dan pemerkosaan di dua tempat berikutnya.

Ketiga: Polisi juga harus memeriksa dan menyelidiki pembiaran yang terjadi di rumah jabatan Bupati yang memungkinkan pelaku dengan leluasa melakukan kejahatan di dalam rumah jabatan yan memiliki tingkat Securitas kelas 1 di Kabupaten ini.

Keempat: Negara harus hadir untuk memberikan perlindungan hukum bagi korban bukan saja dengan menghukum pelaku tetapi juga meberikan perlindungan hukum bagi korban dalam pengobatan, perawatan dan pemulihan traumatiknya melalui kantor Perlindungan Anak dan Perempuan Kabupaten TTU.

Kelima: Kita prihatin juga atas sense sosial masyarakat kita yang tidak peduli atas peristiwa penyiksaan atas perempuan di tempat umum dengan tidak menolong korban saat di jalan berteriak minta tolong tapi orang orang di sana membiarkannya. Ini menjadi fenomena yang buruk dalam masyarakat kita.

Keenam: Penerapan pasal berlapis penganiayaan berat dan pasal pemerkosaan dengan hukuman maksimal mesti diterapkan, juga pasal penyertaan atas mereka yang mengundang korban dan tidak maksimal melakukan pertolongan dan membiarkan korban dibawa pergi.

Direktur Lakmas NTT ini menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal proses ini sampai tuntas.

“Kita akan terus kawal proses hukum yang sementra dilakukan oleh Polres TTU agar semua pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa dan korban mendapatkan perlindungan,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus S. Fernandes, S.Pt sampai berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi wartawan. (Jhovan/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here