KEFAMENANU, GARDAMALAKA.COM – Dosen Susastra PBSI Unimor, Uman Rejo, S.S., M.Hum., berkesempatan mempresentasikan makalahnya yang telah selesai dinilai oleh Tim Reviewer melalui berbagai tahapan untuk disajikan dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XXIX.

Konferensi bertajuk “Sastra, Wisata, dan Pendidikan Multikultural di Era Revolusi 4.0” yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) ini bekerjasama dengan Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo berhasil dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom meeting.

Konferensi tersebut diselenggarakan pada 16 s.d 17 November 2020 di Gorontalo, menghadirkan pembicara utama yang sangat berkompeten di bidangnya, di antaranya Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Pusat dan Guru Besar Antropologi Sastra dari Universitas Negeri Yogyakarta), Prof. Madya Dr. Mawar Safei (Universitas Kebangsaan Malaysia), dan Dr. Jean Couteau (Writer, Columnis, dan Curator dari Perancis).

Selain itu, pada hari pertama, Senin (16/11) acara dibuka dengan peluncuran buku karya anggota Hiski se-Indonesia berjudul Sastra Pariwisata oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. Buku ini terbit kali pertama Agustus 2020 oleh penerbit PT Kanisius Yogyakarta.

Buku antologi yang dieditori oleh Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang), dan Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Udayana) menawarkan pendekatan baru yang dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra.

Kepada media, Dosen Susastra PBSI Unimor, Uman Rejo, S.S., M.Hum., memaparkan bahwa dirinya mempresentasikan makalah berjudul “Homosexual In The Development Of Contemporary Indonesian Literature”.

Menurut Uman Rejo, ada dua fokus bahasan yang disampaikan dalam makalah ini. Pertama, perkembangan karya sastra Indonesia bertajuk homoseksual yang ada di Indonesia. Kedua, beberapa kajian akademis sastra di Indonesia yang membahas tajuk tersebut, baik yang berbentuk skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah.

Berbicara tentang fenomena homoseksual dalam sastra, tidaklah harus mengabaikan hakikat sastra sebagai produk budaya. Sebagai produk budaya, sastra itu memiliki beberapa prinsip dasar.

Pertama, sastra itu bersifat fiktif, imajinatif, dan rekaan.

Kedua, sastra bukanlah produk budaya yang statis, ia merupakan produk budaya yang dinamis, mengikuti perkembangan pada masanya.

Ketiga, sastra itu creatio atau hasil ciptaan/karya dari sastrawan, ia bukanlah produk budaya yang turun dari langit begitu saja, ada proses yang bermain dalam kemunculannya.

Keempat, bahasa sastra berbeda dengan bahasa nonsastra. Bahasa sastra cenderung bersifat konotatif, mengandung sugestif, bersifat asosiatif, dan maknanya polyinterpretabel atau multiinterpretatif.

Kelima, ada konvensi dan inovasi dalam sastra.
Keenam, sastra itu multiperspektif, artinya dalam membaca, menikmati, dan membedah karya sastra tidaklah dilihat dari satu perspektif saja melainkan banyak perspektif yang bisa digunakan untuk melihat berbagai fenomena atau realitas yang terdapat dalam karya sastra, baik yang berbentuk prosa, puisi, drama, lirik lagu, film, komik, atau subgenre sastra yang lain.

Uman Rejo mengatakan, membahas tentang homoseksual, sama dengan membahas tentang orientasi seksual manusia.

Berdasarkan orientasi seksualnya, manusia dapat dikategorikan menjadi tiga yakni heteroseksual, homoseksual, dan biseksual.

Ada dua paradigma yang dapat digunakan dalam melihat fenomena homoseksual. Paradigma ini didapatkan setelah membaca karya Dede Oetomo, Ph.D. berjudul Membungkam Suara Pada Yang Bisu (2003).

Pertama, paradigma esensialisme, yakni memandang fenomena homoseksual sebagai keadaan pribadi seseorang, tetapi justru mendapat tantangan dari masyarakat. Artinya, paradigma ini digunakan oleh pelaku homoseksual untuk menunjukkan keeksistensian dirinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, paradigma sosiokonstruktivisme, yakni memandang fenomena homoseksual sebagai hasil konstruksi sosial, banyak merujuk pada posisi perilaku homoseksual dalam berbagai budaya non-Barat. Artinya, paradigma kedua ini yang digunakan oleh para pengkaji atau peneliti ilmu sastra-sosiohumaniora dalam melihat fenomena homoseksual tersebut, apakah itu yang terdapat dalam fiksi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Sastra merupakan produk budaya yang tidak turun begitu saja dari langit, ada proses yang mengikutinya. Begitupula dengan sastra yang mengangkat topik tentang kehidupan kaum homoseksual.

“Karya sastra itu ada karena ada pengarang yang mau menulisnya, dapat dibaca orang karena ada yang menerbitkan dan menjualnya, dan seterusnya. Artinya, ada sistem produksi, distribusi, dan konsumsi pembaca yang berperan dalam kehidupan sastra bertajuk homoseksual ini. Apalagi pada era digital seperti itu, sastra bertajuk tersebut dapat berkembang dengan cepat mengikuti era dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat seperti saat ini,” tegas Uman Rejo.

Ia menjelaskan, dalam perkembangannya, representasi tentang fenomena homoseksual sudah ada pada kebudayaan kita.

Dalam budaya lokal Indonesia misalnya, di Jawa Timur ada yang disebut sebagai warok dan gemblakan pada kesenian Reog Ponorogo. Ritual inseminasi anak laki-laki di Papua sebagai ritual peralihan kedewasaan dari anak laki-laki menjadi pria dewasa.

Kearifan lokal masyarakat suku Bugis yang ada di Sulawesi Selatan yang menerapkan sistem gender yang tidak biasa dengan sistem yang berlaku di Indonesia, yakni ada oroane, makkunrai, calalai, calabai, dan bissu.

Dalam seni budaya pertunjukan, representasi tersebut juga tampak pada tari Sewudati di Aceh, seni budaya lenong di masyarakat Betawi, tari Bedhaya di Jawa, tari Gandrung di Banyuwangi, seni pertunjukkan ludruk di Jawa Timur, pertunjukkan Sadhur di Madura, tari Masri di Makassar, dan seni pertunjukkan drama tari yang dinamakan Arja Muani di Bali.

Dalam khasanah sastra Jawa klasik, praktik homoseksual juga dinarasikan dalam Serat Centhini, tepatnya dalam kisah perjalanan Mas Cebolang. Dalam serat tersebut, terdapat satu adegan dalam buku panjang yang menarasikan bagaimana Adipati Wirasaba melakukan hubungan seksual dengan Mas Cebolang alias Mas Ngali, seorang putra pertapa yang tengah mengembara pada abad ke-17.

Dalam perkembangan film di Indonesia, representasi praktik homoseksual juga pernah ada sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Ada film Jang Djatuh di Kaki Lelaki (1971), Betty Bencong Slebor (1978) Akulah Vivian: Laki-laki Menjadi Perempuan (1977), Istana Kecantikan (1988), Kuldesak (1999), Arisan (2003), Tentang Dia (2005), Detik Terakhir (2005), Love for Share: Berbagi Suami (2006), Realita Cinta dan Rock n Roll (2006), Coklat Stroberi (2007), Fiksi (2008), Lovely Man (2011), Arisan 2 (2011), Salah Bodi (2014), Kucumbu Tubuh Indahku (2019), dan Suka Ma Suka (2009).

Dalam perjalanan sastra Indonesia modern, beberapa novel yang mengangkat tentang praktik homoseksual di antaranya novel Garis Tepi Seorang Lesbian (2003) karya Herlinatiens, Supernova (2001) karya Dee atau Dewi Lestari, Mahadewa-Mahadewi (2003) karya Nova Riyanti Yusuf, Tabula Rasa (2004) karya Ratih Kumala, Dadaisme (2004) karya Dewi Sartika, Larung (2001) karya Ayu Utami, Saman (2003) karya Ayu Utami, Gerhana Kembar (2008) karya Ratih Kumala, Lesbian Laki-laki (2012) karya Deojha, Ashmora Paria (2012) karya Herlinatiens, Suara Perih Perempuan Lesbian dan Kawin Bule (2003) karya Putri Kartini, Re: (2014) karya Maman Suherman, Tiba Sebelum Berangkat (2018) karya Faisal Oddang, Pria Terakhir (2009) karya Gusnaldi, Ini Dia, Hidup (2004) karya Ezinky, Lelaki Terindah (2007) karya Andrei Aksana, Nayla (2005) karya Djenar Maesa Ayu, Dimsum Terakhir (2006) karya Clara Ng., Gerhana Kembar (2007) karya Clara Ng., Kembang Kertas: Ijinkan Aku Menjadi Lesbian (2007) karya Eni Martini, Jendela-jendela (2001) karya Fira Basuki, The Sweet Sins (2012) karya Rangga Wirianto Putra, Jangan Beri Aku Narkoba (2004) karya Alberthine Endah, Cermin Cinta (2006) karya N. Riantiarno, Rumah Kepompong (2009) karya I Wayan Artika, Wajah Sebuah Vagina (2004) karya Naning Pranoto, Taman Api (2011) karya Yonathan Rahardjo, Cowok Rasa Apel (2012) karya Noel Solitude, Pencarian (2015) karya Yuu Sasih dan Aulyta, Jakarta Love Story (2013) karya Rudy Efendi, dan masih banyak lagi novel-novel Indonesia yang mengangkat kehidupan homoseksual.

Dalam bentuk antologi cerpen, representasi praktik homoseksual dalam antologi berjudul Penjara yang di dalamnya memuat 14 cerpen dengan penulis berbeda dari daerah yang berbeda pula. Selanjutnya, penerbit Gramedia Pustaka Utama menerbitkan antologi cerpen berjudul Un Soir du Paris: Satu Petang di Paris (2010) yang memuat 12 cerpen dengan penulis yang berbeda pula. Melalui karya Laila Lele Nurazizah, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan antologi cerpen berjudul Sanubari Jakarta (2012). Dalam antologi ini memuat 10 cerpen.

Pada tahun 2006, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan antologi cerpen berjudul Rahasia Bulan yang dieditori oleh Is Mujiarso. Ada 16 cerpen dengan penulis berbeda yang terdapat dalam antologi ini. Pada perkembangan selanjutnya, terbitlah antologi cerpen berjudul Lelaki Kantong Sperma (2018) karya Putu Juli Sastrawan yang membahas tentang permasalahan seksualitas.

Selain itu, dalam dunia digital atau sibernetika, terdapat pula cerpen-cerpen yang membahas tentang homoseksual. Misalnya dalam laman http://www.suarakita.org terdapat cerpen berjudul “Sepasang Laki-laki di Restoran Cepat Saji” karya Rafandha, “Seperti Mereka” karya Shofwan, “Menjangkau Telinga” karya Abi Ardianda, “Percaya” karya Erwin K., “Janari” karya Yoga Palwaguna, “Panjang Umur Perjuangan” karya Wisesa Wirayuda, dan seterusnya.

Selanjutnya, Uman Rejo menegaskan, dalam perkembangannya, fenomena homoseksual dalam sastra juga ada yang telah mengkajinya, baik berbentuk skripsi, tesis, disertasi, bahkan artikel ilmiah.

Berikut beberapa kajian yang berhasil Uman Rejo kumpulkan. Dalam bentuk skripsi, terdapat skripsi Alief Dewi Anggrahini Mahaputri Purnamasari yang berjudul “Kehidupan Homoseksual dalam Novel Pria Terakhir Karya Gusnaldi: Kajian Sosiologi Sastra” (2013), skripsi Hutrina Isni Pratiwi berjudul “Kehidupan Homoseksual Lesbian dalam Novel Lesbian Laki-laki Karya Deojha dan Novel Re: Karya Maman Suherman” (2015) yang menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk mendeskripsikannya, skripsi Retno Ayu Wulandari berjudul “Identitas Homoseksual dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat Karya Faisal Oddang: Kajian Teori Queer Judith Butler” (2019), skripsi Noffie Nursetyaning Putri berjudul “Orientasi Homoseksual Tokoh dalam Novel Ini Dia, Hidup Karya Ezinky” (2006) yang menggunakan teori representasi Stuart Hall untuk mendeskripsikannya, skripsi Ratih Dwi Andani berjudul “Homoseksual Tokoh Rafky dan Valent dalam Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana: Suatu Tinjauan Psikologi” (2010) yang menggunakan teori kepribadian Carl Gustav Jung dan teori psikoseksual, dan skripsi Vice Admira Firnaherera berjudul “Relasi Jender dalam Novel Garis Tepi Seorang Lesbian Karya Herlinatiens” (2008).

Dalam bentuk tesis, terdapat tesis Mohammad Mahrush Ali berjudul “Identitas Gender dalam Film Salah Bodi Karya Sys NS” (2017) yang menggunakan analisis dengan semiotika Christian Metz dan tesis Dwi Suparti berjudul “Transgender dalam Novel Taman Api Karya Yonathan Rahardjo: Kajian Strukturalisme Genetik” (2012) yang menggunakan teori strukturalisme genetik Lucian Gooldmann.

Dalam bentuk disertasi, terdapat disertasi Kasnadi berjudul “Citra Lesbian dalam Novel Indonesia Awal Tahun 2000-an Karya Perempuan Pengarang: Kajian Feminisme” (2012) yang menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan teori kritik sastra feminis.

Dalam bentuk artikel ilmiah, terdapat tulisan Wiyatmi berjudul “Fenomena Homoseksual dalam Novel Indonesia Mutakhir” (2007) yang menggunakan kritik sastra feminis dengan pengaruh aliran feminis radikal, tulisan Iswadi Bahardur berjudul “Ego Sintonik Tokoh-Tokoh Homoseksual dalam Novel Indonesia Modern” (2014) yang menggunakan konsep id, ego, dan superego Sigmund Freud, tulisan Alfian Rochmansyah berjudul “Pandangan Masyarakat terhadap Homoseksual dalam Novel Rumah Kepompong Karya I Wayan Artika: Suatu Tinjauan Queer Theory” (2017) yang menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan queer theory, serta tulisan Wiyatmi berjudul “Fenomena Seks dalam Novel Indonesia Mutakhir Karya Perempuan Pengarang: Kajian Kritik Sastra Feminis” (2006) yang menggunakan konsep pemikiran feminisme radikal dan liberal.

Tidak tertutup kemungkinan akan muncul kajian-kajian akademis lain yang membedah sastra Indonesia lainnya berkait dengan isu-isu kehidupan kaum homoseksual selanjutnya.

Dalam akhir presentasinya, Uman Rejo menyampaikan dan menegaskan implikasi yang diperoleh dalam diskusi kali ini, baik implikasi secara teoretis maupun secara praktis.

Secara praktis, membaca karya sastra Indonesia yang mengangkat sisi lain kehidupan kaum homoseksual bukanlah mengajak pembacanya menjadi atau mengikuti gaya hidup kaum homoseksual, justru dalam hal ini bisa melihat sisi dualistik kehidupan umat manusia di dunia ini.

Sisi dualistik tersebut terbentuk melihat oposisi-oposisi biner yang ada dalam kehidupan ini. Dengan menjaga keseimbangan antara dualistik sisi tersebut, akan terbentuk nilai toleransi kehidupan yang agung dengan memperhatikan dampak-dampak kehidupan yang muncul di kemudian hari. Sehingga terreproduksilah harmoni keseimbangan dalam menghadapi sisi dualistik tersebut.

Itulah yang harus dipegang dalam berkehidupan di lingkungan masyarakat majemuk yang serba multikultural seperti saat ini.

Secara teoretis, dengan memandang berbagai fenomena kehidupan homoseksual yang direpresentasikan dalam karya sastra Indonesia kontemporer yang multikultur akan memunculkan berbagai kajian akademis sastra dengan menggunakan berbagai pendekatan sastra, baik yang multidisipliner, interdisipliner, maupun transdisipliner.

“Hal ini secara terselubung memberi kontribusi positif untuk pengembangan ilmu sastra ke depannya,” pungkas Uman Rejo. (Tim/Red)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here