BETUN, GARDAMALAKA.COM – Pangan lokal adalah makanan yang lazim dikonsumsi di sebuah wilayah tertentu berdasarkan potensi dan kearifan lokal. 

Umumnya, pangan lokal yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, termasuk kabupaten Malaka adalah singkong (ubi kayu/ketela pohon), pisang, jagung, sagu, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai hajatan, pangan lokal sering menjadi menu pilihan selain menu-menu makanan yang menasional.

Beberapa waktu belakangan, di kabupaten Malaka telah dimulai sebuah hajatan, tahapan penting menjelang pemilihan bupati dan wakil bupati Malaka pada 9 Desember 2020, yakni kampanye calon.

Oleh karena tahapan ini sangat penting maka para Calon Bupati dan Wakil Bupati mulai berkeliling dari desa ke desa untuk melakukan sosialisasi dan kampanye politik demi mendulang simpati calon pemilih.

Pasangan calon (paslon) Bupati, Dr. Simon Nahak, SH, MH dan Wakil Bupati, Louise Lucky Taolin, S. Sos (Kim Taolin) pun tak ketinggalan.

Paslon yang dikenal dengan tagline Paket SN-KT ini mulai mengelilingi desa-desa untuk mensosialisasikan diri, berkampanye dan terlebih ingin mengenal karakter masyarakat dan wilayah secara lebih detail, serta mengetahui kebutuhan warga Malaka umumnya.

Dalam kesempatan kampanye di desa-desa, SN-KT sering sekali disuguhkan pangan lokal seperti ubi, pisang dan ‘akar bilan’ (sagu).

Tak sekedar sebagai hidangan biasa, akan tetapi pangan lokal juga menjadi kebanggaan akan identitas sebagai penduduk agraris dan berbudaya.

Dalam dan dengan penuh kesederhanaan, SN-KT selalu menghargai dan mencicipi setiap suguhan sukarela masyarakat dari potensi lokal yang ada.

Dan karena itu, warga terlihat begitu antusias dan bersorak-sorak ketika menyambut kedatangan Paslon SN-KT dan rombongan di setiap lokasi kampanye.

Warga selalu berbondong-bondong untuk datang dan mendengar orasi politik dan penyampaian juru kampanye.

Menyaksikan kesederhanaan yang melekat erat pada sosok SN-KT maka warga di Desa Angkaes Kecamatan Weliman, Rabu (30/9/2020), sontak memberi pernyataan tegasnya: “Saat ini, warga memilih pemimpin yang sederhana agar tidak mencuri uang rakyat.”

Politisi PSI Malaka, Martinus Nahak, lantas menegaskan kesederhanaan Simon Nahak dan Kim Taolin.

Dalam orasi politiknya saat kampanye Paslon SN-KT di Desa Angkaes Kecamatan Weliman, Rabu (30/9), Martinus mengatakan bahwa Paket SN-KT termasuk sosok pemimpin sederhana dan rendah hati.

Dirinya mengaku punya pengalaman tersendiri ketika berkomunikasi dan bertemu dengan Simon Nahak dan Kim Taolin dalam setiap jumpa keluarga beberapa waktu lalu.

“Tidak ada calon pemimpin di Malaka seperti Bapak Simon. Bapak Simon, orang yang sederhana dan rendah hati. Saya tidak bayangkan kalau ucapan dan sikap Bapak Simon selalu menghargai orang lain,” Martinus mengakui.

Menurutnya, Simon Nahak selalu mengucapkan kata ‘terima kasih’ dan ‘mohon maaf’ terkait perihal yang disampaikan dan diterima.

“Ini tandanya Simon adalah tipikal pemimpim rendah hati dan sederhana,” tandas Martinus.

Pada kesempatan yang sama, Simon Nahak menyampaikan orasi politik.

Calon Bupati berlatar belakang Akademisi dan Pakar Hukum ini mengaku sudah mendengar bahasa-bahasa miring yang ditujukan kepada Paket SN-KT di saat kampanye selama ini. “Paket SN-KT dicap tidak mampu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,” tambah Simon.

Bahkan, kata dia, Paket SN-KT dicap miskin. Bahasa ini dikeluarkan ketika Paket SN-KT dan rombongan disuguhkan pangan lokal seperti ubi, pisang dan sagu saat kampanye di setiap lokasi.

Bagi Simon, disuguhkan pangan lokal tidak berarti menunjukkan kemiskinan.

Hidangan pangan lokal itu menjadi simbol kekayaan/potensi yang dimiliki masyarakat. Mereka (warga) bangga ketika menyuguhkan pangan lokal sesuai apa yang ada dan apa yang dimiliki.

“Saya merasa sangat dihargai. Orang tua dan keluarga saya memberi dari apa yang ada dan apa yang dimiliki. Dan itu kekayaan,” jelas Simon.

Ia menambahkan, “saya juga anak petani. Dan senang kalau saya nikmati hasil keringat orang tua saya, bapak-mama.”

Pengalaman seperti ini, diakui Simon, justeru membuatnya merasa terpanggil untuk pulang kampung.

“Karena baik tidak baik, Malaka lebih baik,” katanya mengakhiri diiringi tepukan tangan warga. (Tim/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here