H. Frengky Saunoah-Amandus Nahas/Paket FRESH saat Menerima SK Dukungan DPP Partai Amanat Nasional di Jakarta (Foto: Istimewa)
H. Frengky Saunoah-Amandus Nahas/Paket FRESH saat Menerima SK Dukungan DPP Partai Amanat Nasional di Jakarta (Foto: Istimewa)

KEFAMENANU, GARDAMALAKA.COM –  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Desember 2020 mendatang semakin memanas. Setiap Pasangan Bakal Calon Kepala Daerah gencar melakukan pendekatan dengan Pimpinan Partai Politik (Parpol) mulai dari tingkatan daerah sampai pada tingkatan pusat.

Pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Timor Tengah Utara Periode 2020-2025, H. Frengky Saunoah, SE dan Drs. Amandus Nahas, paket FRESH dengan tagline ‘Wujudkan TTU BERSINAR’, yang dikabarkan beberapa waktu lalu telah menerima Surat Keputusan (SK) dari Partai Demokrat, dapat meyakinkan masyarakat TTU akan keseriusan Paket FRESH menuju Pilkada mendatang.

Kali ini Paket FRESH kembali menerima amanah dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) melalui SK DPP PAN yang ditandatangani oleh Ketua Umum, Zulkifli Hasan dan Sekretaris Jenderal, Eddy Soeparno sebagai bentuk dukungan terhadap Paket FRESH menuju Pilkada TTU. Sebuah kode terbaik bagi paket FRESH bertarung di Pilkada TTU 2020.

SK DPP PAN kepada Paket FRESH diserahkan langsung oleh DPW PAN NTT mewakili DPP PAN, Rabu (6/8/2020) di Jakarta.

Drs. Amandus Nahas, Bakal Calon Wakil Bupati TTU ketika dimintai keterangannya, Kamis (7/8) mengatakan, sehari sebelumnya pihaknya telah menerima SK dari PAN yang diserahkan oleh Ketua dan Sekretaris DPW PAN NTT.

“Sebelumnya kita sudah menerima SK dari Demokrat dan sekarang kita sudah dapat dari PAN. Sementara kita menunggu dari Perindo, PKS dan Hanura. Mudah-mudahan hari ini atau besok kita sudah bisa terima dari 3 Partai itu,” tandas Wakil Ketua DPRD TTU itu.

Sementara itu, untuk PDI Perjuangan, kata Amandus, akan diserahkan hari Minggu siang nanti. Menunggu saja.

Sedangkan untuk Partai Golkar, tambahnya, masih melakukan survey. Pihaknya memperkirakan, keputusan dari partai Golkar akan diketahui pada pertengahan atau di atas tanggal 20 Agustus.

“Mereka ini masih survey. Nanti hasil surveynya itu keluar mereka akan rapat, baik dari pimpinan Provinsi maupun pimpinan pusat, barulah keluar SK-nya,” imbuh Aktivis Partai Golkar itu.

Terkait isu yang memanas di internal Golkar TTU, Amandus menjelaskan bahwa itu adalah dinamika Partai yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

“Seharusnya Musda (Musyawarah Daerah) itu kalau dipimpin secara baik, saya terpilih secara aklamasi. Nah, dari 30 pemilih, saya kantongi 21 suara sisa 9 suara saja yang lawan saya. Tapi hanya karena tidak ada ketegasan dalam Musda, sehingga -terus terang- netralisasi itu tidak ada,” kisah Amandus.

Dibeberkannya, untuk masuk dalam pencalonan dibutuhkan sebanyak minimal 6 kursi. Dan ia mengakui,  sudah sejak lama pihaknya membangun komunikasi lintas Partai.

“Sehingga kita memiliki keyakinan bahwa semakin banyak partai pendukung atau pengusung, ya ini mendekatkan kita pada kemenangan,” paparnya.

Menurutnya, kalau tanpa Golkar, FRESH berpotensi mendapat 11 kursi; kalau ada Golkar berarti 15 kursi.

“Jadi, saya sebagai Ketua Golkar yang sudah demisioner, saya membuat pernyataan bahwa diakomodir dari Golkar itu hak saya. Namun dalam keadaan tertentu tidak diakomodir dari Golkar pun saya akan tetap berjalan di FRESH, namun konsekuensinya akan diterima oleh Golkar,” tukas dia.

Nahas menjelaskan, sesuai amanah dari Musyawarah Nasional (Munas) yang terakhir semua Ketua di tingkat Provinsi dan Kabupaten berhak dan menjadi prioritas untuk diusulkan atau dimajukan menjadi Calon Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota atau Gubernur dan Wakil Gubernur.

“Nah, seandainya SK Golkar itu tidak ke saya, ini kan jadi pertanyaan publik nanti. Sehingga dengan kinerja yang saya buat selama 1 periode mengomandani Golkar TTU dengan prestasi yang lumayan bagus, mulai dari 4 kursi (Kursi DPRD TTU, red) yang saya pertahankan dari periode sebelumnya, 1 DPRD Provinsi dan 1 anggota DPR Pusat. Ini merupakan prestasi yang tidak membuat mata banyak orang tertutup atas keberhasilan saya di TTU. Sehingga kalau saya tidak diakomodir kan akan menjadi pertanyaan banyak orang dan saya yakin Golkar TTU pasti di-bully,” tegas Anggota DPRD Dapil 1 itu.

“Untuk apa kita menjadi Ketua Partai atau Pengurus Partai jika pada titik tertentu kita tidak digunakan atau dimanfaatkan, tapi orang yang 1 atau 2 bulan merapat kok itu yang dipakai?”

“Sehingga saya tetap optimis bersama dengan Golkar akan lebih oke, tapi tanpa Golkar saya akan tetap berjalan dengan FRESH. Saya optimis akan tetap bersama dengan FRESH, karena ini ribuan orang sudah bekerja untuk kita. Saya tidak mau jadi pengkhianat,” imbuh Demisioner Ketua DPD II Partai Golkar TTU.

Motivasi awal FRESH untuk merubah TTU ke depan ini dengan merubah kehidupan Politik, dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa kehidupan Politik harus dibuka. Berikan ruang atau kebebasan untuk masyarakat TTU tanpa memaksa atau menakut-nakuti.

“Ini (paket FRESH, red) banyak partai, tentu resikonya (kita) akan memberi ruang kepada partai untuk berkembang di TTU,” kata dia.

Amandus pun mengharapkan kader partai pendukung untuk bekerja karena bagaimana pun semua sudah tergabung dalam sebuah organisasi (Partai, red).

“Tentu ada tujuannya, sekian lama kita berada dalam organisasi ini lalu kemudian kita sudah berdedikasi, mengorbankan waktu, biaya dan tenaga, pagi-siang dan malam, lalu kita tidak dipakai, nah ini akan melemahkan semangat orang untuk berorganisasi,” tutupnya. (Jhovan/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here