Pemimpin Telah Mati (Kritik Terhadap Kekerasan Verbal Sang Pemimpin)

Oleh: Yosman Seran* 

*)Alumnus STFK Ledalero

GARDAMALAKA.COM – Dalam tulisan kali ini, penulis ingin merangkai beberapa argumentasi yang dapat dicerna masyarakat dari 9 Kabupaten di NTT, khususnya Kabupaten Malaka pra-pilkada.

Dari 9 kabupaten yang akan menyelenggarakan hajatan politik, terdapat beberapa kabupaten yang menggelar “pertarungan” dengan menghadirkan petahana alias ‘pemain lama’. Salah satu dari beberapa kabupaten tersebut adalah kabupaten Malaka.

F. W. Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman, dengan slogannya ‘Tuhan Telah Mati’ merupakan salah satu bentuk kritik terhadap situasi manusia atas kematian nurani terhadap Tuhan. Jargon ‘Tuhan Telah Mati’ itu pun merupakan bentuk aksi protes terhadap krisis moral manusia waktu itu.

Nietzsche melihat situasi orang-orang pada waktu itu tidak lagi saling sayang, namun justru saling menyerang. Iman dan perbuatan baik pun menjadi purna. Hal serupa berbeda tipis dengan situasi yang dialami masyarakat di Selatan pulau Timor, kabupaten Malaka.

Banyak ketimpangan yang nampak dirasakan masyarakat. Beberapa fenomena yang paling ‘mencekam’ bagi masyarakat adalah kasus Korupsi, tumbuh menjamurnya dinasti yang berimbas pada lemahnya pertumbuhan ekonomi dan ketidakadilan. Publik seharusnya (wajib) bertanya, apakah pemimpin telah mati?

Pilkada Era New Normal

Momen pandemi covid-19 menjadi ruang dan pintu masuk yang lebar dan mulus bagi seorang ‘pemain lama’. Mengapa? Walaupun pemerintah Indonesia telah berlakukan new normal, namun pandemi yang masih mendarah daging di seantero dunia masih punya dampak besar bagi rutinitas manusia, termasuk momen pilkada yang akan berlangsung pada 9 Desember mendatang.

Seorang petahana akan membusungkan dadanya di tengah arus deras pandemi covid-19, karena sudah berkampanye sejak momen ia terpilih, bahkan visi-misi dan program yang sudah disampaikan sejak periode pertama pun masih membias hingga dirinya mencalonkan diri pada periode kedua ini. Fenomena ini jelas akan berbanding terbalik dengan pergerakan figur penantangnya. Untuk itu, ‘pemain baru’ harus lebih bijak dan lebih tangguh ‘membanting’ pemain lama.

Figur yang hendak melawan petahana harus lebih jujur dan terbuka dengan keluh-kesah masyarakat sejauh masa kepemimpinan petahana. Artinya berani merangkul, membuka diri mendengarkan masyarakat, dan membangun tekad untuk maju bersama. Lebih dari itu, mampu ‘menyelamatkan’ masyarakat dari belenggu penindasan dan ketidakadilan.

‘Pemain Lama’

Akhir tahun 2020 mendatang, kabupaten Malaka juga ikut melaksanakan hajatan politik (pilkada). Tentunya, figur lain yang akan menantang petahana harus punya taring yang lebih tajam dan ‘beracun’. Itu artinya, para penantang patahana harus bisa memberi tawaran kepada masyarakat dengan pemaparan visi-misi dan program yang mumpuni dan berdampak bagi masyarakat kabupaten Malaka.

Harus ada terobosan baru bagi masyarakat sehingga punya daya tarik yang lebih, dibandingkan tawaran dari petahana. Sebaliknya, jika tawaran visi-misi dan program tidak ‘menggigit’ hati masyarakat, maka petahana akan lebih ‘menggila-menggigit’ hati masyarakat.

Perjalanan lima tahun selama masa kepemimpinan petahana bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Apalagi kabupaten Malaka yang masih ‘labil’. Tidak gampang membangun sebuah daerah mulai dari nol (sama sekali belum tersentuh pembangunan). Untuk itu, apa yang pemerintah (petahana) sudah bangun selama lima tahun merupakan ‘kado terindah’ yang patut disyukuri. Masyarakat patut memberi apresiasi. Namun, sejarah buram yang telah tercoreng di bumi Malaka patut dikritisi masyarakat.

Melangkah lebih jauh, masyarakat perlu mengkaji secara detail komprehensif terhadap perkembangan pembangunan di Kabupaten Malaka selama lima tahun kepemimpinan petahana. Apa yang telah dibuat untuk masyarakat? Semua program yang dibicarakan sejak awal masa kampanye direalisasikan? Atau hanyalah sebatas pada level wacana atau diskursus semata? Atau bahasa pasarnya ‘jangan-jangan hanya janji manis doang’.

Kekerasan Verbal

Kehadiran figur publik adalah representasi dari keadaan masyarakat. Segala yang ada padanya adalah kepunyaan masyarakat. Bahkan, panggung tempat ia berdiri menyampaikan orasi-orasi manis pun adalah milik rakyat. Untuk itu, seorang pemimpin harus tahu siapa dirinya, dan apa yang ada padanya. Sikap tubuh dan ucapan yang dipertontonkan kepada masyarakat harus tetap berada pada wadah nilai-nilai universal.

Menjadi seorang pemimpin/penguasa, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi merupakan representasi dari keadaan masyarakatnya, merupakan satu keutuhan, keseluruhan dari sebuah tatanan kemasyarakatan. Pelayanannya harus merata, berkeadilan dan menjadi hamba bagi masyarakatnya, bukan menjadi raja atau tuan besar. Apalagi sampai menindas (dengan tindakan maupun perkataan).

Pada awal bulan Juli kemarin, Bupati Stef Bria Seran mencibir dengan lantang orang-orang yang berdaya kritis terhadap kebijakan dan tumpang-tindihnya pembangunan di Kabupaten Malaka, terutama kasus korupsi yang marak terjadi di Kabupaten Malaka.

Dalam sambutannya di Hari Bhayangkara, Betun, awal Juli kemarin (seperti yang dilansir dalam salah media online radarmalaka, edisi 1 Juli 2020) menyebutkan, Bupati Stef Bria Seran dengan nada keras mengucapkan kata biadab dan tidak berpendidikan kepada masyarakat atau orang-orang yang menurutnya menghasut kasus korupsi tanpa alat bukti. Selain itu, di halaman surat kabar harian umum Pos Kupang edisi 2 Juli 2020 pun memberitakan hal serupa.

Penulis lalu melihat dan menilai ucapan yang ‘muncrat’ dari diri seorang pemimpin, yang menyimpang dari moral dan adat istiadat, merupakan ‘pembunuhan’ atas dirinya sendiri.

Kekerasan verbal seperti itu hanya dari orang yang terlahir dengan mental (emosional) prematur. Seharusnya, seorang pemimpin lebih bijak menanggapi setiap kritikan dari masyarakat. Demokrasi akhirnya ‘mati suri’ di ketiak seorang pemimpin akibat ketidaktahuan seorang pemimpin atas kritikan yang dilontarkan masyarakat. Seorang pemimpin gagap membedakan substansi kritikan dan lebarnya arti fitnah.

Kekerasan verbal, berkata biadab sebenarnya mempertegas siapa yang lebih tidak beradat. Sebenarnya, justru dengan mengeluarkan kata-kata biadab di ruang publik, di panggung forum, Bupati Stef Bria Seran sedang menarik garis demarkasi yang tajam antara masyarakat berbudaya dengan dirinya.

Berangkat dari permasalahan itu, penulis hendak mempertegas, bahwa apabila ada tindakan yang tidak beres alias menyimpang dari nurani rakyat, ia tidak pantas dikatakan sebagai sang pemimpin. Tidak pantas berdiri di panggung pentas politik untuk memberi orasi-orasi manis. Ia layak diberhentikan dari permainan sandiwara di panggung politik. Dan pantas kita sebut mantan politisi, karena tidak layak berhati besar.

Watak seorang pemimpin adalah gambaran, citra masyarakat. Kalau menjadi citra masyarakat maka kesejahteraan patut dijunjung tinggi, martabat luhur manusia pun disanjung tinggi, dan demokrasi pun ditegakkan setinggi-tingginya, sebab asas paling tertinggi dalam tatanan kemasyarakatan sosial politik adalah kebaikan bersama, kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan.

Sangatlah disayangkan, apabila sang pemimpin mencela masyarakatnya, apalagi sampai membunuh nurani mereka. Ucapan kata-kata kasar tentunya ada ‘sesuatu’ yang tidak beres. Sesuatu yang dimaksud bisa saja datangnya dari masyarakat, atau bisa juga dari ketidakberesan diri sendiri.

Hemat saya, seorang pemimpin ketika berada di ruang publik tidak pantas bertindak kasar atau berkata tidak sopan. Ada pemimpin yang memang merasa itu biasa-biasa saja. Tetapi dalam lingkungan berbudaya – bermartabat, seorang figur publik harus tahu menempatkan diri. Mencela yang lain, berkata kasar dan bertindak kasar kepada yang lain, jelas itu perbuatan mencela (dalam ajaran agama, budaya, dan lainnya).

Apabila terjadi ungkapan kasar yang ‘meletus’ dari bibir seorang figur publik, tokoh masyarakat, atau pun tokoh agama, dapat menimbulkan tanda tanya besar di benak warga masyarakat. Pantaskah ia disebut pemimpin? Tokoh masyarakat? Tokoh agama?

Secuil kecepatan bibir dapat ‘memurtadkan’ setumpuk atau segudang kata bijak. Tindakan baik, berkata yang santun selalu lahir dari hati orang-orang bijak. Begitu pun sebaliknya, bertindak tidak jujur, kasar, lahir pula dari hati orang yang angkuh, sombong, tamak.

Pemimpin seperti itu sesungguhnya telah lama mati. Salve! (*)

Catatan:

  • Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis;
  • Redaksi menempatkan tulisan sesuai tata letak media gardamalaka.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here