BETUN, GARDAMALAKA.COM – Aliansi Rakyat Anti korupsi (Araksi) NTT memberikan deadline waktu selama dua minggu kepada Penyidik Polres Malaka untuk mengungkap kasus dugaan korupsi pengadaan itik.

Kasus yang disinyalir merugikan negara sebanyak 2,7 miliar rupiah tersebut sudah dilaporkan Araksi ke Polres Malaka pada 11 Maret 2020 lalu.

Ketua Araksi NTT Alfred Baun ketika dikonfirmasi melalui telefon seluler, Kamis (16/7/2020) menyampaikan pihaknya belum mendapat konfirmasi dari penyidik polres Malaka terkait proses kasus dugaan korupsi itik.

“Sejauh ini kami dari Araksi belum terkonfirmasi dengan penyidik di Polres Malaka; akan tetapi kelihatannya kasus ini sudah sangat lamban. Sampai sekarang juga pihak Polres belum ekspos kasus ini,” ungkap Alfred.

Menurut Alfred, kasus dugaan korupsi itik ini harus segera diekspos, apakah status dinaikkan atau tidak.

“Penyidik harus secepatnya ekspos. (Penyidik) sempat berjanji kasus ini akan diekspos ke Polda. Kemudian saya cek di Polda, tapi katanya (pihak Polda) belum ada surat dari Polres Malaka,” jelas ketua Araksi.

Alfred mengatakan, Penyidik di Polres Malaka kelihatan terlalu “bobo” dengan kasus ini.

“Kenapa begitu ya, tidak berani untuk kasus ini?,” tohok Alfred.

Pihak Araksi memberikan deadline waktu untuk Polres Malaka segera meningkatkan kasus ini untuk menetapkan tersangka dalam waktu dua minggu ke depan.

Jika memang Polres Malaka tidak bisa menangani kasus itik Malaka, Araksi akan membawa kasus ini ke Polda Kupang.

“Sementara saya sudah kordinasi dengan Polda dan Polda mengatakan tinggal menanti surat dari Araksi,” jelas Alfred.

Pihak Polda NTT memang hanya menanti surat dari Araksi. Apabila surat Araksi sampai ke Polda untuk segera mengambil alih kasus dugaan korupsi itik maka Polda akan segera bertindak.

“Kalau surat dari Araksi mengalihkan kembali kasus ini ke Polda, kita ambil alih. Saya sudah kordinasikan dengan Ditreskrimsus Polda NTT; hanya menanti surat dari Araksi,” papar dia.

Ketua Araksi memang bertanya-tanya mengenai kasus itik Malaka yang sudah lama sekali diam, bahkan selama berbulan-bulan.

”Kasus dugaan korupsi pengadaan itik ini sudah (dilaporkan) sejak 11 Maret 2020; sampai sekarang sudah mau masuk bulan Agustus, bayangkan status kasus ini tidak jelas (belum ada progres). Kalau dilihat kasus ini, periksa saksi gampang-gampang saja; fakta lapangan sudah jelas, terus apa yang sulit,” tanya Alfred.

Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno saat ditemui di ruangan kerjanya, Selasa (14/7) sebelumnya menjelaskan, kasus itik sedang dalam proses.

“Kalau untuk itik, sementara prosesnya berjalan,” kata Albertus.

Ia menambahkan, pihaknya sudah memeriksa lebih dari dua puluh orang saksi.

“Kita masih tunggu hasil dari Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP); sampai sekarang belum ada jawaban dari sana,” ungkap Kapolres Malaka singkat. (Jes/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here