PILKADA Malaka: Momentum Ganti Pemimpin

Oleh: Yosman Seran, S.Fil (Jurnalis)*

GARDAMALAKA.COMEven demokrasi (hajatan masyarakat) atau yang lebih dikenal dengan Pilkada akan berlangsung pada 9 Desember mendatang.

Di wilayah NTT terdapat 9 Kabupaten yang akan menyelenggarakan hajatan politik. Di Pulau Flores; Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Ngada. Di Pulau Sumba; Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Timur. Di Pulau Timor; Kabupaten Malaka, Kabupaten Belu dan Kabupaten TTU. Dan satu kabupaten lainnya adalah Sabu Raijua.

Hajatan politik di 9 Kabupaten di provinsi NTT harus dilihat sebagai kesempatan yang luhur dan saat yang mulia bagi masyarakat. Momentum ini harus ‘ditangkap’ sebagai peluang emas untuk mendapatkan pemimpin yang pantas demi perjalanan masa depan masyarakat lima tahun mendatang.

Siapakah yang Pantas?

Meskipun arus pandemi Corona tak kunjung usai, namun polemik politik di 9 Kabupaten terlihat mulai memanas. Masyarakat di pelosok-pelosok desa, di tempat-tempat umum mulai berargumen terhadap figur-figur tertentu. Tak hanya itu, di halaman sosial media pun bergumul adu argumen dan polemik panjang dari setiap pendukung figur politisi.

Figur yang notabenenya baik akan menjadi bahan perbincangan yang hangat dan asyik dicerna. Figur yang menimbun kejahatan (baca; adanya ketidakadilan, pembangunan tidak tampak, kesejahteraan semakin jauh) pun menjadi salah satu topik yang dikupas tuntas. Itu artinya, partisipasif politik masyarakat cukup tinggi. Masyarakat punya niat mendapatkan pemimpin yang layak untuk berziarah bersama lima tahun ke depan.

Saya tidak harus menjelaskan jauh. Saya lebih fokus membahas persoalan pilkada di kabupaten Malaka. Masyarakat kabupaten Malaka sepatutnya berpikir yang matang sebelum menjatuhkan pilihan. Harus berani mengatakan ‘tidak’ untuk banyak kejatahan, dan mengatakan ‘iya’ demi perubahan.

Eli Wiesel dalam orasinya di saat menerima penghargaan Nobel pada 11 Des 1986, mengatakan, “mungkin ada saat-saat ketika kita tidak berdaya untuk mencegah ketidakadilan, tetapi tidak pernah boleh ada waktu ketika kita gagal untuk memprotes”.

Kasus korupsi yang terjadi di kabupaten Malaka merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crimes). Masyarakat seharusnya jangan melihat kejahatan ini sebagai peristiwa yang biasa-biasa saja. Harus lawan, protes, bila perlu lengserkan pemimpin.

Aksi lawan masyarakat terhadap penguasa yang tidak mampu harus dilakukan. Lawan dalam konteks saat ini adalah dengan cara berhenti memelihara pemimpin yang gagal. Pemimpin yang tidak mampu. Pemimpin yang tidak layak.

Dan momentum pilkada merupakan saat yang paling tepat untuk putuskan melawan kejahatan luar biasa itu. Melawan ketidakadilan yang sudah terbungkus rapi, dan memutuskan mata rantai kejahatan terselubung tersebut. Bersatu dan katakan ‘ganti pemempin’.

Kabupaten yang berusia sebiji jagung itu sudah menorehkan catatan kelam. Sejarah yang buruk. Dan tidak pantas harus terulang kembali. Masyarakat harus menilai, berpikir secara kritis terhadap pembangunan di masa kepemimpinan saat ini.

Apabila mencermati secara detail informasi yang tersebar di sosial media; online, media cetak, dan elektronik, terdapat banyak kegagalan yang terjadi. Misalnya, kasus stunting yang dinilai sebagai permasalahan serius di Indonesia, lalu di Kabupaten Malaka masih berada pada angka yang masih tinggi.

Angka stunting masih terbilang tinggi sesuai dengan data yang diperoleh Riskesdas tahun 2018; prevalansi stunting di Indonesia sebesar 30,8%, sementara di Provinsi NTT sebesar 42,6% (Voxntt, edisi 13/8/19), sementara itu, di kabupaten Malaka data yang diperoleh Februari 2020 sebesar 4.909 orang (ViktoryNews, edisi Juni 2020). Angka tersebut termasuk tinggi di provinsi NTT. Karena itu, Malaka merupakan kabupaten dengan angka stunting masih tergolong tinggi.

Kalau mau dicermati lebih serius, seorang pemimpin yang basicnya adalah kesehatan, tahu persis kesehatan, maka sektor kesehatan seharusnya menjadi prioritas sehingga masyarakat tidak terkategori sebagai masyarakat tertinggal di sektor kesehatan. Tapi kenyataan mempertontonkan sebaliknya. Kabupaten Malaka justru masih berada pada angka stunting yang tinggi. Ini dinilai sebagai satu kejanggalan yang seharusnya tidak terjadi.

Selain angka stunting yang tinggi, angka kasus korupsi juga tertinggi di Provinsi NTT. Kasus korupsi di Kabupaten Malaka merupakan satu kejahatan luar biasa. Sangat disayangkan.

Untuk itu, masyarakat harus bertanya pada diri sendiri, momentum pilkada tahun ini, siapa yang pantas membawa masa depan masyarakat Malaka? Dasar pertanyaan itu harus berangkat dari alasan-alasan selama masa kepemimpinan sebelumnya. Jangan semata-mata jatuh hati pada pembicaraannya, tetapi lihat bukti nyata tindakan selama masa kepemimpinannya. Untuk itu, masyarakat seyogyanya bertanya, siapa yang lebih pantas?

Rindu Pulang untuk Membangun

Pilkada juga merupakan kesempatan emas bagi warga atau masyarakat lengserkan pemimpin apabila menimbun pelbagai kejahatan. Momentum pilkada merupakan saat yang tepat karena demokrasi sesungguhnya ada pada rakyat. Kekuatan masyarakat adalah segalanya. Tak tergoyahkan. Mutlak.

Paket SAKTI adalah duet maut Simon Nahak dan Kim Taolin. Dua sosok ini terlihat solid dan pantas untuk membangun Kabupaten Malaka lima tahun ke depan. Setelah mengkantongi SK dari beberapa partai, paket SAKTI terlihat makin melejit di publik. Masyarakat kabupaten Malaka sangat berharap alias haus dengan kehadiran dua sosok sederhana yakni Simon Nahak dan Kim Taolin.

Kedua Putra asal Malaka ini tidak asing terdengar di kalangan masyarakat luas, khususnya masyarakat akar rumput Kabupaten Malaka.

Ibarat sebuah benda yang sudah rusak, memang tidak mudah untuk diperbaiki kembali. Namun, demi masyarakat dan masa depan generasi putra-putri Malaka, Simon Nahak yang sudah sukses di tanah rantauan memilih untuk kembali.

Jalan pulang, kembali ke asal, adalah filosofi hidup bagi orang-orang yang sudah meraih kesuksesan (pengetahuan, materi, pengalaman) di rantauan. Simon Nahak kembali dan siap menggandeng Kim Taolin, bersama membangun tekad membawa mimpi-mimpi indah masyarakat Kabupaten Malaka keluar dari keterburukan, penindasan, dan keterbelakangan.

Masyarakat perlu berpikir secara kritis-masif. Bahwa setiap orang yang terbilang sukses dan kembali untuk membangun daerahnya bukan sesuatu yang mudah. Namun karena ketulusan hati dan keterpanggilan melihat penderitaan dan keterbelakangan daerahnya, orang kembali dan ingin membangun.

Simon Nahak Sang Penyelamat

Simon Nahak memiliki ‘background’ yang luar biasa; di dunia hukum, dunia pendidikan, dunia pemerintahan (birokrasi) dan budaya. Sosok yang sangat rendah hati dan berbudi baik ini hadir di tengah masyarakat kabupaten Malaka sebagai penyelamat.

Kehadiran Simon Nahak-Kim Taolin, dapat dilihat sebagai ‘roh keselamatan’. Mengapa? Ada apa dengan Simon Nahak dan Kim Taolin? Masyarakat berharap kedua sosok ini pantas dan layak membawa Malaka menuju lima tahun ke depan.

Selain Simon, sosok berbadan kecil dan berjiwa sosialis atau yang akrab dikenal di kalangan masyarakat dengan nama Kim Taolin, merupakan anak muda yang turut berprihatin dengan keadaan dan situasi masyarakat Malaka saat ini. Walaupun postur tubuh kurus kecil, namun jiwa mudanya masih terpancar tajam seperti bias cahaya dari langit biru.

Putra sulung almarhum Ludovikus Taolin itu memberanikan diri untuk maju di Pilkada Malaka tahun ini karena hendak menyelamatkan masyarakat dari ketertinggalan dan penindasan.

Hampir di setiap sudut desa, sosok Simon Nahak dan Kim Taolin selalu disebut-melekat di bibir orang-orang kecil. Apa yang terdengar dan terungkap dari mulut masyarakat adalah Simon orang baik.

Kesan masyarakat Malaka membuat saya teringat kembali Simon dari Kirene yang baru pulang dari ladang dan membantu Yesus yang sementara memikul beban Salib. Dengan tergesa-gesa Simon melepaskan cangkul yang ada di pundaknya, dan berjalan ke arah Yesus untuk memikul Salib. Salib adalah penderitaan menuju keselamatan.

Simon adalah sosok yang menyelamatkan. Saya membayangkan, seandainya waktu itu Simon dari Kirene tidak membantu Yesus, bisa jadi Yesus Sang Juru Selamat itu tidak bisa melanjutkan misi keselamatan bagi umat manusia.

Melihat kembali situasi dan kondisi riil yang terjadi di Kabupaten Malaka, sosok Simon Nahak dan Kim Taolin sudah pantas dan layak membawa masyarakat Kabupaten Malaka berziarah keluar dari penindasan dan ketertinggalan.

Bukan berarti petahana tidak layak atau tidak pantas, namun jauh lebih bagus ganti orang baru, biar masyarakat akan merasakan aroma baru pembangunan di Kabupaten Malaka. Butuh perubahan, butuh orang baru, butuh ide-ide baru. Yang lama mari kita tanggalkan.

Masyarakat jangan sia-siakan sosok yang baru ini. Dan Malaka butuh orang baru. Masyarakat tidak perlu ragu. Dan jangan pernah takut dengan orang yang lama berada di luar Malaka. Justru dari luar Malaka dan lama sukses di rantauan, ada banyak pengalaman, ada ide-ide cemerlang yang akan mengalir keluar demi sebuah pembangunan.

Simon Nahak dan Kim Taolin, sudah saatnya harus memimpin di Kabupaten Malaka. Tidak ada lagi yang lain. Satukan hati, dan tekad maju bersama Dr. Simon Nahak dan Kim Taolin. Salve! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here