Ilustrasi
Ilustrasi

Menelisik Kekuatan Petahana di Pilkada Malaka 2020

Oleh: Kondradus Y. Klau*

*) Alumnus Sekolah Demokrasi Belu Angkatan III

GARDAMALAKA.COM – Bola panas kasus dugaan korupsi di Kabupaten Malaka terus bergulir sejak terungkapnya kasus korupsi bawang merah di kabupaten bungsu di Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut.

Bertambahnya tersangka dalam kasus korupsi bawang merah, salah satu komoditi unggulan program Revolusi Pertanian Malaka (RPM) saat ini terkesan “melemahkan” kekuatan petahana.

Bagaimana tidak? Sejumlah oknum pejabat pemerintahan tersangkut di dalamnya. Dan fakta membuktikan, para tersangka kini sedang dalam tahanan Polisi.

Belum ada putusan final bersalah, memang. Namun kondisi ini tentu berakibat timbulnya penilaian liar masyarakat luas akan lemahnya kemampuan manejerial sang bupati, yang akan maju lagi sebagai calon bupati incumbent (petahana).

Masyarakat pasti akan bertanya-tanya: bagaimana para pegawai (pejabat) itu dibina sehingga bisa ceroboh melakukan tindak korupsi? Bagaimana karakter mereka dibentuk sehingga melanggar asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance)? Bukankah pemimpin tertinggi (bupati) pernah menyatakan Malaka (harus) bebas dari korupsi?

Belum lagi, gerakan melawan korupsi di Malaka terus meningkat secara konsisten. Perlahan namun pasti kasus ini sedang menuju puncak, mencari dan menemukan kembali sisa uang negara yang masih sangat fantastis jumlahnya, yang entah mengalir ke mana dan siapa.

Kondisi ini disinyalir akan semakin melemahkan kekuatan petahana yang akan maju lagi sebagai calon bupati.

Lalu, bagaimana upaya petahana menyusun kekuatan baru?

Dalam posisi seperti disinggung di atas petahana harus mampu berstrategi, sambil menepis anggapan-anggapan yang mungkin saja buruk dan merusak citra kepemimpinannya.

Petahana harus bisa melihat situasi ini dan menyusun kekuatan baru untuk kembali memenangkan hati rakyat Malaka.

Petahana harus berpikir keras. Ini bukan perkara ringan. Ini bukan sesuatu yang dapat dianggap enteng.

Memang, Pilkada Malaka kali ini akan sangat menarik dicermati, karena akan melibatkan petahana. Apalagi muncul figur lawan yang bisa juga memanfaatkan situasi hari ini sebagai senjata perusak.

Ditambah lagi masyarakat luas yang sadar akan kondisi terkini di Malaka, -yang ramai dibicarakan “di luar” karena kasus korupsi,- dengan berbagai kepentingannya tentu akan mendambakan munculnya figur baru yang mampu “melibas” petahana dengan gaya kepemimpinan yang pasti berbeda.

Iya, beragam kepentingan masyarakat membuka kemungkinan jalan sang petahana semakin berat dalam tarung Pilkada Malaka Desember 2020 mendatang.

Kasus-kasus dugaan korupsi yang mencuat saat ini dapat membelit calon petahana.

Jika dihubungkan lagi dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih maka dapat saja petahana akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Petahana bisa saja dianggap belum berhasil membina para bawahannya.

Dari telisikan tersebut, probabilitas petahana memenangkan kembali kontestasi Pilkada semakin menipis.

Meski begitu, ada tiga hal penting yang bisa menjadi bahan pertimbangan petahana mengukur dan menyusun kekuatan agar menang dalam tarung politik nanti sebagaimana disebutkan Bruce B. de Mesquita dalam bukunya The Logic of Political Survival tahun 2002.

Mesquita menuliskan bahwa di negara-negara yang memegang prinsip demokrasi “all incumbents have rivals”. Artinya petahana akan selalu mendapat lawan dalam setiap pemilihan.

Untuk itu, seorang petahana perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu 1) Winning Coalition, bagaimana petahana konsisten memperjuangkan dan mempertahankan koalisi, 2) Loyalty, bagaimana petahana menjaga loyalitas pemilihnya, dengan cara berlaku adil pada masyarakat, 3) Political Communication, bagaimana petahana membangun komunikasi politik yang baik, entah dengan para elit maupun masyarakat.

Ketiga hal tersebut di atas, dapat dijadikan sebagai kekuatan baru melawan rival-rival dalam Pilkada Malaka nanti.

Pertanyaan yang timbul, apakah ketiga faktor tersebut sudah dilakukan petahana? Bagaimana posisi politik petahana hari ini dalam kondisi Malaka yang sedang diimpit banyak kasus dugaan korupsi? Bagaimana petahana mengkomunikasikan secara baik kepada masyarakat untuk “membersihkan diri” dari anggapan tidak menguntungkan dan menjaga kepercayaan mereka?

Down (1957) pernah menyatakan, ada dua hal yang mempengaruhi orientasi pemilih dalam menentukan sikapnya, yaitu orientasi isu (yang berkembang) dan figur kandidat.

Berdasarkan dua orientasi yang dikemukakan di atas, dapatkah petahana mempertahankan posisi dan peluang kemenangan di Pilkada Malaka 2020?

Jawabannya ada pada strategi yang dimainkan petahana, serta bagaimana upaya figur lawan dalam menghadapi petahana sendiri.

Kita tunggu dan saksikan! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here