E. Nita  Juwita, SH., MH. dari Pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, Kuasa Hukum Elimelek dan Piet Konay dalam Kasus Klaim Kepemilikan Tanah (Foto: Dok. Pribadi)
E. Nita  Juwita, SH., MH. dari Pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, Kuasa Hukum Elimelek dan Piet Konay dalam Kasus Klaim Kepemilikan Tanah (Foto: Dok. Pribadi)

KUPANG, GARDAMALAKA.COMKlaim Kepemilikan Tanah. Pernyataan bohong dan menyesatkan yang dilontarkan Marten Konay kepada Elimelek dan Piet Konay sebagaimana dilansir diantimur, Rabu (10/6/2020) terkait klaim kepemilikan tanah Konay, akhirnya dibantah habis Elimelek Konay saat mendatangi Kantor redaksi media KPK, Kamis (11/6/2020).

Apa yang dilontarkan Marten Konay dinilai Elimelek Konay sebagai pernyataan yang  tidak berdasarkan fakta hukum dan memutarbalikkan fakta.

”Yang bohong dan putar-balik  itu dia (Marten Konay, red). Saya tantang dia untuk adu bukti hukum dan sejarah,” kata Elimelek tegas.

Elimelek meminta agar Marten jangan saja berkoar-koar dengan pernyataan menyesatkan dan membodohi masyarakat  dengan bukti hukum palsu  yang dimilikinya.

Menurut Elimelek, fakta hukum telah membuktikan bahwa pihaknya adalah pemilik tanah Konay, yang adalah pewaris dari Bety Bako Konay berdasarkan putusan inkra MA  RI nomor: 3171. K/PDT/1990 tanggal 30 Mei 1996, yang menyatakan, “para ahli waris adalah keturunan dari Bety Bako Kunay”.

Ia mengimbuhkan, jika sekarang Marten Konay menyatakan tanah tersebut adalah bawaan dari Esau Konay, maka patut dipertanyakan.

“Dia punya asal-usul dari mana? Kalau dia bilang anak dari Esau Konay maka siapa ayah dari Esau Konay? Lalu jika Esau punya bapak Yohanes Konay maka patut dipertanyakan, dia betul – betul Konay atau Neluk?” Tanya Elimelek.

Ditegaskan Elimelek, kebohongan Marten Konay semakin jelas terlihat saat  mengatakan bahwa pihaknya adalah pemilik tanah.

Padahal bukti hukum melalui putusan berkekuatan hukum tetap Mahkamah Agung (MA) RI, aslinya ada pada pihak Elimelek.

Begitupun terkait klaim Marten Konay bahwa tanah tersebut sudah dieksekusi, ternyata putusan tersebut langsung ditolak MA karena dia sudah membuat surat akta pencabutan.

Yang menjadi pertanyaan, lanjut Elimelek, putusan MA mana yang dia kantongi? Dia perkara dengan siapa?

“Karena saya sudah memiliki putusan inkra MA RI yang sifatnya perdata tapi dipaksakan menjadi pidana. Lalu dia mau klaim apa?  Tunjukkan buktinya, termasuk papan yang dia pasang  adalah berdasarkan putusan kami 3171,” tukas Elimelek.

Ia membantah lantaran menurut Elimelek itu sangat tidak masuk akal.

“Karena putusan aslinya ada pada kami. Yang menjadi pertanyaan, putusan yang dimaksutkan Marten Konay itu perkara dengan siapa?” Tantang Elimelek.

E. Nita  Juwita, SH., MH. dari Pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, Kuasa Hukum Elimelek dan Piet Konay dalam Kasus Klaim Kepemilikan Tanah (Foto: Dok. Pribadi)
E. Nita  Juwita, SH., MH. dari Pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, Kuasa Hukum Elimelek dan Piet Konay dalam Kasus Klaim Kepemilikan Tanah (Foto: Dok. Pribadi)

Bantahan yang sama juga dilontarkan Piet Konay menanggapi pernyataan  sesat Marten Konay terkait surat baptis palsu yang dmilikinya.

“Supaya Marten Konay tahu, saya punya putusan MA RI yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan, Piet Konay tidak terbukti menggunakan surat baptis palsu. Surat aslinya ada pada saya. Jadi Marten Konay tidak usah mengada-ada dengan semua kebohongannya,” tegas Piet.

Sementara itu, E. Nita  Juwita, SH., MH. dari pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, yang menjadi kuasa hukum Elimelek dan Piet Konay kepada media KPK mengatakan, pernyataan Marten Konay sebagaimana dilansir diantimur haruslah berdasarkan fakta dan bukti hukum yang dimiliki dan bukan membuat berita bohong yang berujung persoalan hukum.

Menurut Advokat senior ini, pernyataan Marten Konay dalam pemberitaan diantimur adalah tidak berdasarkan bukti dan fakta hukum yang sebenarnya.

Apa yang dikoar-koarkan Marten Konay adalah upaya membolak balik fakta tanpa mendasarkan pada bukti hukum, termasuk telah melakukan pemfitnahan  melalui pernyataan di media  terhadap klien kami, yang melanggar Undang-Undang ITE.

“Sebagai kuasa hukum, kami  telah mencermati pemberitaan diantimur dan akan membawanya (Merten) ke ranah hukum termasuk akan melaporkan Marten Konay atas perbuatan tidak menyenangkan kepada klein kami,” tutup Nita Juwita. (Tim/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here