Melkianus Contarius Seran, S.H selaku Kuasa Hukum saat Melaporkan Kasus Penyegelan Rumah yang Dialami Kliennya, Helena Seuk Bria di Mapolres Malaka (Foto: Jes)

BETUN, GARDAMALAKA.COM – Kasus pemerasan yang merujuk pada penyegelan rumah Helena Seuk Bria (HSB) alias Mama Kauk, warga Dusun Nataraen B, RT.013/RW.06 Desa Naimana, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, NTT berbuntut laporan di Polres Malaka.

Tindakan kurang terpuji tersebut dilakukan 24 orang pada Jumat (1/5/2020) sekitar pukul 08.30 WITA, dengan salah satu pelaku di antaranya Yosef Maria Tae alias Yosef Tae.

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun, korban HSB bersama kuasa hukumnya, Melkianus Contarius Seran S.H datang ke Mapolres Malaka, Selasa (12/5/2020) untuk melaporkan tindakan kekerasan yang menimpa dirinya.

Kuasa hukum, Melkianus Contarius menyampaikan, laporan kasus ke Mapolres Malaka dan dilanjutkan ke unit reskrim itu dilakukan atas tindakan kurang lebih 24 orang, warga Desa Naimana, yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan menyegel rumah HSB.

“Kehadiran ke-24 orang pelaku penuh ketegangan, serta semena-mena melakukan pemerasan dan secara paksa, sehingga berujung pada penyegelan rumah korban,” ujar Melki.

Ditambahkannya, kasus yang dilaporkan kepihak Mapolres itu, karena perbuatan para pelaku, mempunyai peranan masing-masing, memasuki rumah milik korban, dan secara paksa mengeluarkan barang-barang milik korban.

“Kemudian, 24 orang pelaku tersebut membawa barang-barang milik korban pergi, dengan nilai taksiran sekitar 20 juta rupiah,” tuturnya.

Menurut Melki, modus tindakan kejahatan yang dilakukan 24 orang pelaku sudah terorganisir.

“Kenapa dikatakan terorganisir? Karena 24 orang itu datang secara bersama-sama dan melakukan tindakan secara bersama-sama juga,” jelas dia.

Rumah Helena Seuk Bria, Warga Desa Naimana yang Disegel Paksa oleh 24 Pelaku Perbuatan Melawan Hukum (Foto: Jes)

Lebih lajut Melki juga menyampaikan, pelaku perbuatan lebih dari 1 orang, jadi penerapan hukum dengan delik penyertaan.

“Dalam kategori penyertaan. Sebab ada pelaku utama, ada aktor, ada yang menyuruh, ada turut membantu,” ujarnya.

Imbuh Melki, untuk nama-nama 24 orang pelaku, sudah diajukan ke pihak penyidik reskrim Malaka. Di antara nama ke-24 orang pelaku termasuk Ketua RT wilayah Dusun setempat, turut serta melakukan tindakan Pidana.

“Apalagi sebagai aparat Desa tidak boleh melakukan perbuatan melawan HUKUM atau bertentangan dengan HUKUM,” tegas dia.

Penerapan dalam Hukum, para pelaku sudah melawan pasal 368 KUHP, pemerasan dengan paksaan, jo. Pasal 55, KUHP; turut serta melakukan tindakan PIDANA lebih dari 1 orang.

Selanjutnya Melki berharap pada pihak penyidik agar penyelidikan berjalan sesuai koridor hukum yang ditetapkan kitab UU KUHP yang berlaku. (Jes/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here