Romo Romanus Romas, Dosen STIPAS Palangka Raya (Sumber: Fb RR)

PALANGKA RAYA, GARDAMALAKA.COM -Seorang Pastor Diosesan, Romo Romanus Romas, yang bertugas sebagai Dosen di STIPAS Palangka Raya menuliskan sebuah kisah pilu, Kamis (16/4/2020) pagi pada dinding facebooknya.

Kisah itu melukiskan bagaimana Pastor Romanus harus bersikap kala berhadapan dengan seorang perempuan yang sedih karena kehilangan ibunya di tengah pandemi covid-19.

Romo Roman, demikian ia akrab disapa, Putera asal Manggarai, Flores, NTT itu menulis kisah tersebut dengan judul asli: “Covid-19 dan Kemanusiaan Kita.” Begini ia menulis.

Covid-19 ini memang melumpuhkan nalar sehat sebagian manusia. Batuk dicurigai, bersin dicurigai, demam dicurigai, teman dijaga jarak, mau kunjung tetangga takut, dikunjungi sahabat tidak mau salaman, duduk berjauhan, belum lagi masker di mulut membuat pembicaraan serba tidak jelas.

Tepaksa angguk kepala saja, pertanda merespon pembicaraan yang serba tidak jelas itu.

Kita memang berada pada kondisi yang menuntut kita untuk serba jarak, serba hati-hati dan serba serbi lainnya. Lama kelamaan menjadi serba paranoid. Salah? Tidak juga.

Kemarin (Rabu, 15 April 2020) pukul 18.00 (waktu Palangka Raya) saya didatangi seorang wanita muda; ketika berbicara dengan saya dengan jarak 2 meter dia masih memakai masker.

Saya berusaha mendekat supaya jelas terdengar apa yang dia sampaikan.
“Tolong Pak, ibu saya meninggal dan saya mau mencari Pastor untuk misa requiem, tapi saya tidak tahu di mana mau diadakan”, kata perempuan muda itu.

Hatiku sebagai seorang imam meleleh tak karuan. Saya jawab, “Baik, saya mau misa untuk beliau”.

Tapi Maaf Pastor, saya bingung mau misa di mana, sekarang ibu saya masih di ruang jenasah, lanjutnya. {kebetulan yang meninggal ini dari luar kota Palangka Raya, sang ibu meninggal karena kanker dan ginjal}.

Peti Berisi Jenasah Ibu Krisela Arnasi di Aula Gereja di Palangka Raya (Sumber: Fb RR)

Kalau Anda (perempuan muda) tidak keberatan, bisa disemayamkan di Aula Gereja, usul saya.

Mendengar jawaban saya, gantian dia yang meleleh tak karuan. ” Pastor, entah dengan cara apa saya harus berterima kasih,” dalam suara yang serak hampir tak terdengar.

Tidak lama kemudian dia kembali ke RS untuk mengambil ibunya dan saya segera mempersiapkan tempat.

Tepat pukul 19.30 (waktu Palangka Raya), saya tanya apakah ada keluarga yang lain? Tidak ada jawabnya.

Akhirnya saya mulai misa. Saya, suami si almarhum dan anaknya. Iya kami bertiga saja.

Sejak mulai misa saya begitu rapuh sekali, suara saya hampir tak terdengar karena air mata saya meleleh tak karuan. Membayangkan jika itu ibu saya, dan saat meninggal seperti ini tak ada satupun pelayat.

Atau jika saya meninggal pada situasi seperti ini, saya benar-benar seorang diri, mati dalam kesunyian, pergi dalam kesendirian. Dan, asli saya jadi lumpuh membayangkannya.

Dari Altar saya melihat anaknya sepanjang misa sesenggukan tak henti, membuat saya ikut meleleh.

Ya Tuhan, inikah yang Engkau maksud, “ketika lahir, kita datang sendirian, dan meninggalpun tetap seorang diri”?

Dan kenyataan itu saya alami saat ini. Pagi ini pkl 09.00, ibu itu akan dimakamkan.

Selamat jalan ibu, walau saya tidak mengenalmu tapi hati ini perih sekali rasanya menghantarmu ke surga abadi dalam situasi seperti ini.

Dari kedalaman jiwaku berdoa, beristrahatlah dengan tenang dan damai, surga menantimu. Requiescat In Pace (RIP) Ibu Krisela Arnasi.

Kisah pilu yang dituang Pastor Romanus dalam dinding facebooknya mengundang simpati dari berbagai kelangan.

“Romo ada tertulis barangsiapa menabur dengan bercucuran air mata akan menuai dengan sukacita…..Tuhan memberkati”, tulis akun Djono Koesanto.

“Rip tuk ibu Krisela Arnasi. Dan Semoga pastor dianugrahi kesehatan,” tulis akun Wensis Hardus.

“Salut tuang… Gereja bersaksi ditengah derita umat… Sehat terus ite dalam tugas dan pelayanan. Moga beliau bahagia di surga…”, demikian tulis Albertus Andi di kolom komentar.

Apapun terjadi Romo Roman telah menunjukkan pelayanan penuh kasih kepada umat yang membutuhkan, menyelamatkan jiwa ibu Krisela Arnasi (Almh.) dengan mempersembahkan misa requiem kepada si ibu.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak imam (Pastor) dan umat Tuhan di manapun berada. (Tim/Red)

Catatan:

  • Judul telah disunting untuk kepentingan publikasi.
  • Isi disesuaikan dengan tata letak pada media gardamalaka.com
  • Tulisan dipublish setelah mendapat ijin dari penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here