BETUN, GARDAMALAKA.COM – Diduga menggelapkan dana untuk pengadaan seragam Batik, orangtua siswa SMP Negeri Wederok kesal dan meminta penjelasan Kepala Sekolah (Kepsek). Pasalnya, sudah 3 tahun uang dikumpulkan siswa, akan tetapi sampai saat ini belum direalisasikan.

Informasi yang dihimpun gardamalaka.com, memang sudah 3 tahun siswa mengumpulkan uang sebanyak Rp. 280.000 rupiah untuk pengadaan batik dan kostum, dengan rincian uang batik sejumlah Rp. 80.000/satuan, dan kostum olahraga Rp. 200.000/satuan.

Kepada media, pada Senin (6/04/2020) di Wederok orangtua salah seorang siswa mengeluhkan pengadaan baju batik yang belum terealisasi tersebut.

“Uang batik, dari pihak sekolah perintahkan siswa untuk kumpulkan semenjak kelas VII, tapi sampai sekarang sudah kelas XI batik itu belum dikasih dari pihak sekolah; entah alasan apa kami sebagai orangtua siswa ¬†juga tidak tahu karena tidak ada informasi kepastian dari Kepala Sekolah”, ungkap MYH salah satu orangtua siswa.

Ia menambahkan, pihak sekolah meminta orangtua mengumpulkan uang batik dan kostum yang disampaikan melalui siswa.

“Kostum sudah dikasih tapi batik sampai hari ini belum dapat”, kata dia.

Orangtua siswa menduga, pihak sekolah sudah gelapkan uang batik di SMP Negeri.

Menurut pengakuan orangtua, ini sangat menyusahkan masyarakat kecil.

“Yang susah payahnya sekolah kan anak, tapi atas perbuatan dari pihak sekolah, dan ini sudah 3 tahun makanya orangtua siswa harus tanya keberadaan batik tersebut”, ungkapnya kesal.

Diinformasikan, warga sempat menanyakan keberadaan batik tersebut, akan tetapi belum ada kepastian dari Kepala Sekolah.

“Jadi warga minta uang itu di kembalikan saja”, ujar MYH.

“Karena anak-anak sudah kelas XI, jadi baju yang dipesan untuk apa lagi diterima. Lebih bagus kami minta kembali uang saja sehingga bisa gunakan untuk lanjut sekolah”, tukasnya.

“Kostum untuk kelas IX sudah, (sedangkan) batik belum. Orangtua siswa melihat tidak ada respon positif dari pihak sekolah makanya mereka laporkan persoalan ini ke kepala desa Waderok sebagai kepala wilayah”, pungkas MYH.

Kata Kepala Desa Wederok

Virgilius Tahu Nahak, Kepala Desa (Kades) Wederok, saat dikonfirmasi membenarkan, ada orangtua yang merasa dirugikan karena proses pengadaan baju batik tersebut.

“Jadi kalau bisa uang itu dikembalikan saja”, kata Kades.

Virgilius meminta pihak sekolah mengatur pertemuan dengan orangtua siswa, membicarakan bersama sehingga uang tersebut bisa dikembalikan.

“Jangan jadikan sekolah ini sebagai lahan bisnis; kalau memang baju tidak ada lagi yah kembalikan saja uang itu untuk masyarakat supaya orangtua siswa gunakan untuk hal-hal lain”, pinta Kades yang akrab disapa Lius.

“Karena masyarakat juga masih sangat membutuhkan demi melancarkan aktivitas lain. Dan karena sudah lama baju ini belum kasih kepada anak-anak makanya masyarakat laporkan kepada saya sebagai Kepala Desa”, imbuhnya.

Kades meminta semua pihak, baik orangtua maupun pihak sekolah tetap menjaga nama baik desa (Wederok) dan sekolah (SMPN Wederok).

“Karena sekolah (berlokasi) di wilayah Desa Waderok, kita sama-sama menjaga. Jangan jadikan itu sebagai lahan untuk meguntungkan pribadi; sebenarnya itu tidak boleh”, tegas dia.

“Ada beberapa masyarakat datang mengeluh di saya terkait dengan batik ini. Semoga saja Kepala Sekolah dan jajaran secepatanya carikan solusi yang terbaik untuk kemajuan sekolah yang berada di wilayah di kita”, pungkasnya.

Penjelasan Kepala SMPN Wederok

Kepala SMPN Wederok, Yohanes Nahak, ketika ditanyakan perihal dugaan tersebut membantah apa yang disampaikan masyarakat (orangtua siswa).

“(Dugaan) Itu tidak betul, karena untuk kelas VIII dan IX itu batik tidak ada; kita tidak pesan, hanya kostum saja. Kecuali kelas VII itu dari pihak sekolah sudah pesan”, jelas Kepsek.

“Selesai Covid-19 ini akan dibagikan karena batik sudah ada di Betun tapi penjual masih di luar daerah. Itu untuk batik, tapi hanya untuk kelas VII; itupun masih banyak tungggakan. Menyangkut persiswa kumpul 280.000 rupiah itu tidak betul. Yang betul hanya 120.000 rupiah untuk kostum saja”, tutup Kepsek Nahak. (Jes/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here