BETUN, GARDAMALAKA.COM – Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Bateti di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur menerapkan budaya literasi sebagai upaya mengimbangi dan mengubah sistem pembelajaran yang terlanjur mengakar dan monoton. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan memperkuat budi pekerti siswa sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

Gerakan literasi sekolah merupakan program yang dicanangkan pemerintah untuk membudayakan membaca dan menulis. Hal tersebut sebagai satu bentuk kepedulian dan kesadaran pemerintah akan pentingnya membangun budaya literasi dalam dunia pendidikan. Unesco mencatat, di antara seribu orang Indonesia, hanya ada satu yang gemar membaca. Hasil perbandingan ini menunjukkan ancaman yang cukup serius bagi generasi muda di masa yang akan datang.

SMA Negeri Bateti sebagai salah satu lembaga pendidikan formal sudah melakukan Gerakan Literasi sebagi budaya yang harus diterapkan secara terus-menerus. penerapan budaya literasi ini merupakan wujud implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, yang mana gerakan literasi sekolah menjadi program pemerintah untuk menanggulangi bangsa Indonesia yang terpuruk dalam hal membaca.

Ketika ditemui awak media, Jumat (13/3/2020) Kepala SMAN Bateti, Donatus Nahak, S.Pd. menegaskan perlunya menjalankan atau menggerakan beberapa literasi, seperti literasi Numerik (matetmatika), literasi baca dan tulis, tak terkecuali literasi digital.

“Berbicara tentang kemajuan pendidikan maka sekolah sebagi lembaga pendidikan formal perlu menjalankan atau menggerakan beberapa literasi antara lain, literasi Numerik (matetmatika), literasi baca dan tulis, serta literasi digital (penggunaan TIK)’ literasi sarana-prasarana dan literasi finansial”, paparnya.

Menurut Kasek Donatus, kegiatan literasi menjadi budaya di sekolah agar siswa terbiasa dengan kegiatan berbicara, membaca, mendengarkan, menulis, dan menghitung merupakan sumber nilai-nilai luhur yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Aktivitas tersebut sudah dilakukan dengan tujuan memperhitungkan, mempersepsikan, mengomunikasikan, dan menggambarkan informasi yang diperoleh sebagi bekal bagi siswa di masa mendatang”, tutup dia. (Selus/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here