“Mencari Matahari yang Hilang di Malaka – Timor”, GARDAMALAKA.COM – Tulisan ini terinspirasi oleh kelakuan seorang filsuf Yunani Kuno namanya Diogenes dari Sinope (c. 404-323 BCE). Ia dekenal sebagai seorang filsuf yang selalu membawa lentera atau lilin pada siang hari menanyakan setiap warga Atena yang ia temui untuk mencari ORANG YANG JUJUR dan MANUSIA SEJATI.

Lantas, mengapa Diogenes mencari orang jujur dan manusia sejati? Latar belakangnya adalah kehidupan warga Atena yang korup dan bermoral buruk. Oleh karena itu, mereka bukan manusia sejati. Itulah hilangnya “Terang” menurut sang Filsuf.

Lebih lanjut, menurut Diogenes masyarakat adalah alat buatan yang dibuat oleh manusia yang tidak sesuai dengan kebenaran atau kebajikan dan tidak bisa dengan cara apa pun menjadikan seseorang manusia yang baik dan layak; Setiap orang, katanya, terperangkap dalam dunia khayal yang mereka yakini sebagai kenyataan dan, karena itu, orang-orang hidup dalam semacam negara impian.

Mencari Matahari yang Hilang di Malaka – Timor (Foto: Common Wikimedia)

Memang, dia bukan filsuf pertama yang membuat klaim ini; Heraclitus, Xenophanes, dan, yang paling terkenal, Socrates semuanya menunjukkan perlunya manusia untuk bangun dari keadaan mimpi mereka ke kesadaran penuh tentang diri mereka sendiri dan dunia.

Bagi mereka yang pernah belajar filsafat tentu mengetahui alegori Gua Plato yang sebenarnya dikhususkan untuk tema ini. Diogenes, bagaimanapun, menghadapi warga Athena setiap hari dengan kehidupan dan nilai-nilai yang dangkal.

Meskipun tampaknya banyak orang mengira dia hanya sakit jiwa, Diogenes akan mengklaim dia menjalani kehidupan yang sepenuhnya jujur ​​dan orang lain harus memiliki keberanian untuk melakukan hal yang sama.

Lalu, apa hubungannya dengan judul “Mencari Matahari yang Hilang di Malaka – Timor” dengan sang Filsuf Lentera? Cobalah kita bertanya-tanya sejenak.

Aha…Adakah Matahari yang “Hilang” di Malaka sehingga perlu dicari? Ataukah di Malaka-Timor sedang diguncang suatu “Kegelapan”? Apakah kita harus seperti Diogenes membawa lentera di siang bolong mencari orang-orang yang jujur dan manusia sejati di Malaka-Timor?

Ya, sudalah jangan terlalu banyak bertanya, namun mencari kenyataan. Wao! KENYATAAN. Ya, Kata Paus Fransiskus, kenyataan lebih besar dari ide-ide.

Trus, apa saja kenyataan di “Rai-Malaka” (Tanah Malaka) sehingga matahari yang bersinar di Malaka sempat “Hilang”? Tentu orang Malaka-Timor dimanapun berada mengetahui bahwa akhir-akhir ini mermunculan kasus-kasus korupsi di Malaka.

Itu sajakah? Penuh teka-teki. Siapakah saya sehingga saya berani melihat bobroknya moral hidup seseorang? Hanya Tuhan dan para penegak hukum yang tahu.

Ya, Namun PASTINYA Matahari (Loro dalam bahasa Tetum) yang selama ini bersinar mulai redup dengan adanya kasus-kasus Korupsi di Malaka tercinta. Itu bukan berarti keadaan Malaka seperti warga Atena, “Ya, bisa benar-bisa tidak” .

Kita Kembali kepada pribadi kita masing-masing karena pencarian MANUSIA SEJATI tak akan pernah berhenti. Viva, Sapere Aude “Beranilah untuk Berpikir Sendiri!”

Oleh Adrian Bria (FB: Adriano Timor), Alumnus STF Driyarkara dan Loyola School of Theology – Ateneo de Manila University.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here