Catatan Lepas soal RPM Malaka (Foto: oleh Vinus Leki)

Catatan Lepas dari Petani di Kampung soal RPM Malaka, GARDAMALAKA.COM – Rame-rame bicara RPM dan satu bagian kecilnya “bawang merah”. RPM itu sesuatu! Konsep pembangunan pertanian yang kontekstual “Update”.

Secara sederhana saya melihat konsep RPM merupakan sebuah terobosan yang membongkar kemapanan gaya bertani masyarakat lokal yang sudah terpola dengan system subsistem dengan prinsip “yang penting cukup untuk makan”. Sebagai masyarakat petani dan lahir dan dibesarkan dalam lingkungan para petani, saya melihat konsep dan pola bertani tersebut di atas yang menjadi alasan kemiskinan dan keterbelakangan.

“Karena dasarnya kami bertani bukan untuk dijual untuk tambahan pendapatan ekonomi tetapi hanya untuk makan setahun atau dua tahun”. Berhadapan dengan prinsip hidup dan prinsip usaha pertanian yang demikian, maka secara sepihak saya boleh katakana RPM itu sesuatu!

Catatan Lepas soal RPM Malaka (Foto: oleh Vinus Leki)

Media aktualisasi program RPM dalam bentuk subsidi, pengolohan lahan, pendampingan, penyuluh dan penyedian bibit merupakan hal positif yang mesti ditanggapi secara antusias. Dari sisi ekonomi beberapa hal di atas merupakan input produksi yang kemudian dapat meningkatkan pendapatan petani.

Ini mesti dilihat sebagai sesuatu hal baik. RPM itu sesuatu!

Masih terdapat banyak hal yang dapat kita ungkap sebagai sesuatu yang baik dari program RPM. Lalu yg mau kita kritisi apa? Berkaca pada konsep pembangunan dalam rana SDGs (sustainable Development Goals) maka yang mesti kita kritisi dari RPM adalah konsep keberlanjutannya.

Aspek keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan mesti menjadi tujuan dari RPM. Pada titik ini secara jujur kita akui bahwa RPM masih belum mencapai target.

Secara ekonomi, dari sisi harga dan tempat pemasaran masih menjadi persoalan bagi kalangan petani yang mendapat sentuhan program RPM. Harga mesti diatur dalam Perda. Biar kami jangan jual sesuka hati “atas kesepakatan penjual dan pembeli”.

Tempat pemasaran belum jelas. Ini karena konsep pasar kami masih terpola dengan pasar sebagai “lokus”. Kalau RPM itu Update maka konsep pasar juga harus Update. “Kami tidak perluh duduk lama-lama di pasar hanya untuk dapat Rp. 3000,00 sekilo”.

Kami patani butuh model pemasaran lebih modern mungkin sekelas Start uphahahaha (ini yg mesti menjadi catatan untuk keberlanjutan RPM).

Pada aspek sosial masyarakat petani harus mampu diberdayakan degan model pendampingan yang lebih intens. Itu berarti penyuluh harus memiliki kemampuan yang lebih kompeten dan memiliki latar belakang Pendidikan yang sesuai.

Intensitas pendampingan oleh penyuluh harus diikuti dengan pola pendekatan “live in”. Itu berarti setiap saat dan waktu penyuluh harus tetap berdampingan dengan patani sebagai pelaku usaha.

“Jangan satu tahun penyuluh datang satu kali…hahahah ….datang pun hanya sampai di rumah kepala desa”…hahahahaha. Hanya pola pendampingan yang intens yang dapat membawah efek bagi perubahan pola bertani secara sosial dari subsisten kepada pola yang komersial (ini yg mesti menjadi catatan untuk keberlanjutan RPM).

Dalam rana ekologis media capaian program RPM dengan model pembukaan lahan secara besar-besaran, pemupukan dan penggunaan bahan kimia lainnya mesti mendapat perhatian dan terkontrol.

Ini dikarenakan pembukaan lahan yang tidak terkontrol berakibat pada hilangnya habitat tertentu yang berfungsi untuk kehidupan manusia, dan penggunaan pupuk dan bahan kimia lainnya dalam usaha pertanian yang tidak terkontrol biasa berakibat pada penurunan kesuburan dan derajat keasaman tanah. Dalam konteks keberlanjutan hal ini mesti menjadi perhatian dalam mencapai kesuksesan usaha pertanian di Malaka.

Lalu hari-hari ini kita rame-rame bicara korupsi. Cela penyalagunaan dan penyelewengan dana bisa terdapat pada media aktualisasi program RPM seperti pembelanjaan bibit dan media-media aktualisasi lainnya.

Ini berpengaruh terhadap tambahan input produksi dalam keberlanjutan ekonomi. Artinya kualitas bibit dipertanyakan, banyaknya bibit sudah pasti dikurangi oleh penyelewengan tersebut dan juga pada pembelanjaan input produksi lainnya.

Kalau demikian maka yg mesti diperbaiki adalah stakeholder yang berhubungan langsung dengan aktualisasi program RPM. Prinsip yg mesti tertanam dalam setiap unsur stakeholder adalah melihat RPM sebagai sebuah Gerakan perubahan yang penting dan harus dalam pertanian bukan sebagai projek pemerintah.

Kalau demikian maka yang mesti mendapat hujatan adalah stakeholder (pelaku-pribadi) dalam aktualisasi program RMP bukan program RPM yg dihujat. RPM itu sesuatu!!!!!!…

(Salam)

Oleh Vinus Leki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here