KUPANG, GARDAMALAKA.COM – Kasus bawang merah yang ramai diperbincangkan media dan masyarakat Malaka sampai ke Senayan. Ketua Komisi III DPR RI pun angkat bicara terkait kasus dugaan korupsi pengadaan benih bawang merah Kabupaten Malaka tahun 2018 senilai Rp 10,8 miliar yang mengakibatakan kerugian uang negara senilai Rp 4,9 miliar.

“Herman Herry berjanji, sebagai Komisi lll DPR RI akan memantau jalannya penyidikan kasus tersebut,” kata Ketua Komisi III DPR RI, Herman Herry saat dihubungi wartawan, Selasa (10/3/2020) malam.

Herman menegaskan, akan mendorong Penyidik Polda NTT untuk mendalami kasus tersebut dan menyerat siapapun yang terlibat.

“Termasuk mendorong penyidik Polda NTT untuk melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu agar kasus tersebut terbuka dan harus menyeret siapapun yang terlibat,” ujarnya.

BACA JUGA:
GEMMA Kefamenanu Nilai Banggar DPRD Malaka Tidak Transparan Soal Anggaran Bawang Merah RPM

Sebelumnya diberitakan, Penyidik Polda NTT menahan lagi empat pejabat dari Kabupaten Malaka terkait kasus dugaan korupsi pengadaan benih bawang merah, Senin (9/3/2020).

Penahanan empat pejabat yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka ini merupakan penahanan kedua setelah tiga tersangka lainnya ditahan pada Jumat (6/3).

Dengan penahanan empat pejabat ini maka total pejabat Malaka yang telah ditahan sebagai tersangka kasus ini adalah sebanyak tujuh orang.

Adapun empat pejabat yang ditahan tersebut termasuk mantan Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Malaka, Martinus Bere alias Manjo dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Yosef Klau Bere serta dua staf ULP Malaka yaitu Karolus A. Kerek selaku Sekretaris Pokja dan Agustinus Klau Atok selaku Ketua Pokja.

Martinus Bere dan Yosef Klau Berek, menjalani pemeriksaan tambahan oleh penyidik, selanjutnya ditahan penyidik Tipidkor Polda NTT karena diduga tebukti menggelapkan dana pengadaan bibit bawang merah tahun anggaran 2018 di Kabupaten Malaka.

Dua staf ULP Malaka yaitu Karolus A. Kerek dan Agustinus Klau Atok juga ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan korupsi proyek pengadaan bibit bawang merah tahun 2018 yang menyebabkan negara dirugikan sebesar Rp 4,9 miliar dari total nilai proyek sebesar Rp 10,8 miliar.

Sedangkan, Toni Baharudin dan Simeon Benu, selaku Direktur Utama belum hadir di Tipidkor Polda NTT pada  pemeriksaan ini karena alasan lagi sakit berat.

Mantan Kepala ULP Malaka, Martinus Bere ketika ditemui wartawan di halaman Mapolda NTT enggan berbicara.

“Hidup ini adalah jalan Tuhan,” kata Martinus sambil menuju ruang tunggu penyidik.

Lebih lanjut Martinus menyarankan agar wartawan bertanya pada kuasa hukumnya untuk mendapatkan penjelasan.

BACA JUGA:
Dugaan Korupsi Bawang Malaka, GEMMA Kefamenanu Minta Polda NTT Periksa Oknum Banggar DPRD Malaka

Seperti diketahui, proyek pengadaan benih bawang merah pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malaka tahun anggaran 2018 dengan nilai kontrak sebesar Rp 9.680.000.000

Kapolda NTT melalui Kabid Humas AKBP Johanes Bangun via seluler, Jumat (6/3) menjelaskan proyek ini dikerjakan oleh Kontraktor Pelaksana CV. Timindo Kuasa Direktur atas nama Baharudin Tony dan diduga melakukan mark-up harga serta adanya unsur KKN dalam proses pengadaan Barang/Jasa.

Kepala ULP, lanjutnya, diduga menerima hadiah atau janji terkait paket pekerjaan proyek tersebut (suap/menyuap) yang merugikan keuangan negara sebesar Rp. 4.915.250.000

Hal itu berdasarkan alat bukti yang sah sesuai dengan pasal 184 KUHAP, Penyidik direktorat kriminal khusus Polda NTT telah melakukan penahanan terhadap 3 orang tersangka sebelumnya.

Selanjutnya dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan berdasarkan Pasal 2 ayat (1), pasal 3 dan Pasal 11 UU RI No.20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UURI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-KUH Pidana. Dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar. (Anggrainy/Red)

BACA JUGA:
ARAKSI Minta Polda NTT Panggil Bupati Dan DPRD Malaka Beri Keterangan Terkait Proyek Bawang 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here