Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, drg. Iin Adriyani, M.Kes

KUPANG, GARDAMALAKA.COM – Dalam rangka pencegahan dan penanganan stunting, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar kegiatan Orientasi Peningkatan Kapasitas Petugas dan Pemantauan Pertumbuhan bagi Tenaga Kesehatan, Kamis (13/2/2020) di Hotel New Sasando Kupang.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, drg. Iin Adriyani, M.Kes. dalam pemaparannya, Kamis (13/2) mengajak semua peserta untuk benar-benar memahami masalah di lapangan dan mau terlibat aktif dalam upaya pemantauan pertumbuhan bayi di bawah lima tahun (Balita).

Para Peserta Kegiatan Orientasi saat Mendengar Pemaparan drg. Iin Adriyani, M.Kes. (Foto: Gusty)

“Setelah kegiatan ini, masing-masing daerah kabupaten melalui peran kader gizi, kader posyandu atau kader kesehatan yang ada di desa, harus mau berperan aktif dalam upaya pemantauan terhadap pertumbuhan Balita di masing-masing tingkatan pelaksanaan Posyandu maupun Polindes”, tutur Adriyani.

Sementara Agustinus Atok, salah satu peserta yang hadir sebagai Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD) asal Kabupaten Belu saat dimintai komentar oleh awak media gardamalaka.com terkait pelaksanaan kegiatan orientasi ini, Kamis (13/2) mengungkapkan, kegiatan ini sangat bermanfaat dan merupakan bekal bagi para kader untuk mampu bersinergi dengan pemerintah desa dalam mendorong kegiatan-kegiatan intervensi stunting melalui musyawarah perencanaan di desa-desa.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gusty ini menjelaskan, sesuai pemaparan dari Dinkes, yang menjadi prioritas adalah 5 Paket layanan stunting, yaitu KIA, Konseling Gizi, Sanitasi dan Air Bersih, Perlindungan Sosial, dan PAUD.

Layanan pencegahan stunting, tambah Gusty, harus dimulai dengan sasaran rumah tangga 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) mulai dari masa Ibu hamil sampai pada bayi 2 tahun karena merupakan masa emas pertumbuhan.

“Ketika selama masa pertumbuhan emas tidak mendapatkan layanan asupan gizi yang cukup maka setelah masa itu, pertumbuhan gizi anak tidak dapat dipulihkan kembali. Jadi masa kritisnya adalah masa emas 1000 HPK”, pungkas TA-PSD yang sebelumnya pernah bertugas di Lembata ini.

Tampak para Peserta Kegiatan Orientasi Serius Mendengarkan Materi di Aula Hotel New Sasando Kupang (Foto: Gusty)

Selain TA-PSD dari kabupaten Belu tersebut hadir juga sebagai peserta dalam kegiatan itu TA- PSD dari Kabupaten Alor, Sabu-Raijua, Malaka, TTU, Flores Timur, Lembata, Rote-Ndao, TTS, dan Kabupaten Kupang di mana masing-masing mengirim 1 peserta.

Hadir pula 2 orang perwakilan dari Dinas PMD Provinsi NTT yakni Kepala Seksi pelayanan Sosial Dasar dan Kepala Seksi Bina Pemasaran dan Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat, 1 orang perwakilan dari Tenaga Ahli Pendamping Desa Bidang Pelayanan Sosial Dasar Tingkat Provinsi, ditambah dengan para kader gizi dan perwakilan dari Dinkes masing-masing kabupaten.

Hingga berita ini dirilis kegiatan masih sedang berlangsung, dan sesuai jadwal akan berkahir pada Minggu (16/2) mendatang. (Kaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here