Pelukan Terakhir Jodoh Orang, GARDAMALAKA.COM – Desahan ombak selatan pantai Motadikin yang khas menemani lamunanku disuatu senja nan damai. Angin senja dari selatan laut Timor menerpa lapisan kulit, membawa sejuta rasa yang belum terlupakan.

Motadikin, 3 tahun lalu menjadi saksi bisu tawa bahagiaku bersama Laela. Tempat ini menjadi alternatif favorit kita disaat senggang, walau mencuri waktu yang tak terduga. Kisah romantisme saat itu, membekas bagai lukisan dinding yang kelam. Masa yang penuh keindahan dan kebahagiaan.

Laela, seorang gadis polos dan baik hatinya. Dara manis dari desa di sebelah baratnya kota Betun. Gadis pujaanku yang sangat kucintai. Gadis yang pernah kutangisi dan gadis yang sering meneteskan air matanya saat rindunya tak terbendung untukku.

Senja ini, di tempat yang sama dan tidak ada yang berubah. Di atas sampan rusak milik nelayan pantai selatan, kembali ku renung kisah yang masih hangat membekas. Saat itu, di atas sampan rusak ini, kami berdua duduk dan merencanakan sebuah kehidupan bersama yang akan kami jalani.

Dilema saat itu melanda. Aku harus pamit dan pergi merubah nasib di tanah orang. Aku ingin merantau di tanah Jawa. Alasannya, rumit hidup saat itu di Malaka dengan segala aspek kehidupan dikuasai elit politik. Laela saat itu sudah meniti karirnya di sebuah Puskesmas Malaka. Aku??
Hanya gelendangan yang tidak ada kepastian hidup. Mungkin saat itu yang tersisa hanya hati yang tulus. Ya tulus untuk mencintainya. Tapi alasan klasik itu sudah tidak zaman lagi di mata para mertua saat ini.

“Id……… ”
Laela menyapaku ditengah lamunan yang sudah kian jauh. Id adalah sapaan akrab untukku dari Laela.

“Iya Laela sayang,” kujawab sapanya dan menoleh ke arahnya berusaha tersenyum,walau batin ini saat itu tersiksa. Bersamanya aku selalu berusaha tersenyum walau duka sering menggetarkan kalbu. Karena, kata Laela senyumanku itu manis. Ahh gombal kau Laela.

“Jika nanti sudah di rantauan, harap kita tetap komunikasi ya. Jangan pernah berpikir untuk kita tidak bersama. Semua ada jalan keluarnya dalam setiap masalah yang kita hadapi,” ujar Laela lirih.

Laela menatapku lirih. Aku terpaku diam mendengarnya.Ku coba mengangkat wajah lesuku. Ku tatap matanya. Ada ketulusan kulihat di sana. Mata yang tulus dan tidak pernah berdusta. Mata seorang wanita yang pertama meratapiku.

Perlahan bola mata indah itu berkaca. Kutatap lagi. Mutiara bening ketulusan itu jatuh melintasi pipinya. Ku raih tangannya, pipinya ku kecup mesra lalu ku peluk. Isak tangis terdengar. Ah Laela, apa yang kau tangisi?

Dalam pelukan itu, aku berusaha menguatkannya. Yah.. Hatinya terpukul dan berat jika harus berpisah denganku. Bagaimana tidak, kebersamaan 3 tahun terjalin begitu bahagia. Kita saling menyayangi dan saling berbagi. Ah Laela, ku tuliskan kisah ini dengan deraian air mata.

12 April 2016

Esok harinya,di rumahku, ada Laela dan keluargaku. Saat itu adalah perpisahan yang sangat berat dan baru ku alami dalam hidup. Ya. Aku harus berangkat mengadu nasib di tanah orang dan harus berpisah dengan keluarga dan terutama adalah Laela pujaan hati.

Pukul 11 petang lewat sedikit, aku bergegas pamit. Di ujung pintu rumah Laela berdiri dengan tatapan kosong. Aku tak kuasa menatapnya. Ku kecup keningnya dan dia merangkul erat tubuhku. Sobat,saat itu aku tak kuat menahan air mata. Hatiku hancur. Berat rasanya harus hidup tanpa kehadirannya untuk waktu yang cukup lama.

AKu lepas pelukannya dan bibirku mendaratkan ciuman mesra dikeningnya lagi. Tak ada kata perpisahan saat itu.

Aku melangkah melewatinya. Di depan sudah menunggu adikku yang akan mengantarku ke Terminal umum.
Sekitar 5 langkah kakiku, terdengar Laela memanggilku.

“Iddd…….. ”
Panggilan yang terakhir dan pelukan terakhir saat itu.
Spontan aku menoleh ke arah suara panggilan itu. Tanpa komando, aku kembali mundur dan merangkulnya erat.  Pecah tangis kami berdua. Ya tangisan perpisahan.

“Jaga kesehatan di sana. Jangan telat makan. Bila rindu, telepon aku. Aku setia menantimu pulang” kata penguatan yang tak bisa menguatkan. Aku menangis tersedu. Ah kamu Laela.

19 Juni 2018

Aku pulang.
2 tahun menahan rindu, kini aku pulang dengan harapan dan rindu yang bergelora. Tapi memang, jodoh itu urusan Tuhan dan kita tidak bisa berbuat banyak. Kini dia sudah berpaling dariku dengan lelaki pilihan orang tuanya. Masih ku ingat pesan mertua ku saat itu, ‘ kami butuh mantu yang berseragam ‘.

Nah sudah jelas aku tidak masuk dalam kriteria mereka. Seragam? yang ku punya hanya seragam SMA 10 tahun silam. Seragam SMA tidak berlaku lagi di mata mertua zaman sekarang.

Laela yang dulu aku kenal tulus mencintaiku, kini hilang dari hadapanku. Kadang bertemu di jalan, cuman bisa tersenyum tipis padaku. Calon suaminya berseragam korpri dan aku cuman kuli tinta jalanan yang dibenci elit politik dan tak dianggap.

Penulis : Frido Umrisu Raebesi
(Pegiat Jurnalistik Malaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here