Pastor Viktor Dodi Sasi, CMF (Foto: Dok. Pribadi)

ROMA, GARDAMALAKA.COM РBerdasarkan kronologi yang beredar termasuk yang diterima redaksi, Pastor Paroki Nurobo, P. Gabriel Y. N. Bahan, CMF coba ditikam pelaku sebanyak tiga kali karena berusaha melindungi dua orang anak penjual ikan pada Rabu (29/1) lalu. Kejadian tersebut mengundang reaksi dari banyak masyarakat. Tidak ketinggalan pastor-pastor kongregasi CMF.

Atas kejadian tersebut, para Pastor asal kongregasi CMF (konfrater Pastor Gabriel) tersebar di seluruh belahan dunia ikut merasa prihatin. Lantas itu menjadi topik pembicaraan di internal para Pastor CMF.

Foto pelaku percobaan penikaman Pastor Paroki Nurobo yang Luas Beredar di Media Sosial

Tanggapan pun datang dari Pastor Viktor Dodi Sasi, CMF. Sebagaimana dikutip dari WhatsApp grup ASDM, Minggu (2/2/2020) Pastor Dodi menyampaikan keprihatinannya. Ia mengaku kaget sekaligus simpati mengetahui kejadian ini. Di saat yang sama Pastor Dodi mengakui sikap kemartiran Pastor Gabriel yang sudah ditunjukannya.

“Saya merasa kaget, terkejut dan rasa simpati yang mendalam dengan peristiwa pencobaan penikaman Pastor Paroki Nurobo (P. Gab Bahan), yang juga adalah konfrater sekongregasi. Kebetulan saya menerima berita ini tanggal 1 Februari 2020, yang juga bertepatan dengan peringatan 184 martir kami. Kebetulan, bisa saja, tapi bagi saya Pater Gab sudah menunjukkan kegigihan kemartirannya”, tulis Pastor Dodi.

Ia melanjutkan, semua umat pasti prihatin dan bahkan bisa saja “mengutuk” apa yang dilakukan pelaku. Untuk itu, bagi Pastor yang sedang studi di Roma ini, pelaku sudah jelas harus mempertanggunjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Umat diminta terus mengawal dan menyerahkan penanganan kasus ini pada pihak yang berwajib.

Pastor Viktor Dodi Sasi, CMF dari Roma-Italia Berekasi Keras atas Kasus Percobaan Penikaman Pastor Paroki Nurobo Keuskupan Atambua, Indonesia (Foto: Dok. Pribadi)
Pastor Viktor Dodi Sasi, CMF dari Roma-Italia Berekasi Keras atas Kasus Percobaan Penikaman Pastor Paroki Nurobo Keuskupan Atambua, Indonesia (Foto: Dok. Pribadi)

Pastor Dodi pun mengaku, mendengar penggalan kisah beredar berupa rekam jejak pelaku yang memang diceritakan sudah “biasa” melakukan kejahatan kriminal di sekitar area Nurobo. Maka ia coba mengkaji dari konteks pendidikan pelaku, sisi sosial dan moral pelaku. Karena menurutnya, pendidikan pelaku, sisi sosial dan moral pelaku bisa saja ikut menentukan terjadinya peristiwa ini.

“Ketika ada banyak ruang di kepala kita yang kosong maka kadang yang terjadi adalah tindakan yang “nekad”. Maka bagi saya ini bukan soal gagal atau tidak gagal misi Gereja dengan kebijakan-kebijakan yang ada tapi bisa saja daya serap umat kadang masih kurang terhadap berbagai aspek termasuk iman, moral, ataupun budaya yang kita perjuangkan”.

“Lalu tenunan kisah dari peristiwa ini yang sudah tersebar di media sosial, bisa menjadi autokritik bagi gereja/kita semua. Rasa saya, kita semua sepakat untuk bisa menemukan dengan gagasan pastoral yang ramah, mengena dan tepat. Maka penting di sini bahwa Gereja harus bisa sejauh mungkin menjauhkan diri dari gereja yang fungsional dan administratif. Mungkin wajah gereja yang bergerak keluar ke periferi harus lebih nampak”, urainya.

Hal lain, menurut Pastor Dodi, yang juga penting menjadi perhatian adalah bagaimana membangun gereja sebagai umat Allah. Sebab bangunan iman umat itu jauh lebih penting dari semuanya.

“Saling memberi masukan, teguran atau kritik di antara kita (awam dan kami), bagi saya berasal dari satu rasa yang sama, yakni rasa cinta kita pada gereja”.

Di akhir tulisannya, Pastor Dodi mengutip pemikian Karl Rahner yang bisa menjadi refleksi semua umat Allah, begini: “Gereja itu seperti seorang ibu yang sudah tua, keriput dan berbeban berat, tapi tak seorang pun boleh memukulnya, karena gereja adalah ibu kita”. (Kon)

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here